Selamat Datang Di Remanda'S Community

BENTENG PASSO - AMBON

BENTENG PASSO - AMBON
(Foto: Amanda'S)

Minggu, 20 Oktober 2013

Pemodelan Papalele Sebagai Model Budaya Ekonomi Subsisten Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Oleh: Revalda Amanda Salakory*) 
AGP FIK UNPATTI KARYA ILMIAH

I. PENDAHULUAN 
1.Latar Belakang
Indonesia Sebagai Negara maritim memiliki 70% wilayah adalah laut dengan luas 5.800.000 km2, dan terhampar lebih 17.504 pulau sepanjang garis katulistiwa. Rentang garis pantai terbujur sepanjang 81.290 km (http://indomaritimeinstitute.org). Sebagai provinsi kepulauan, Maluku juga memiliki luas perairan mencapai 658.295 km dan luas daratannya mencapai 54.185 km, dengan panjang pantai 10.662 km (http://id.scribd.com), serta didiami oleh suatu komunitas yang sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Pada jaman dulu dalam dalam system perekonomian mereka (ekonomi subsisten) ini belum ada istilah "uang" sebagai alat tukar-menukar. Mereka yang belum tercukupi kebutuhannya bisa tukar menukar barang (barter) dengan tetangga atau kerabatnya. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pengolah ikan, dan pedagang ikan dalam skala kecil ... (Koentjaraningrat .1990). Kelompok ini pula yang lebih dikenal sebagai kelompok subsisten, sebab umumnya mereka menjalani usaha dan kegiatan ekonomi untuk menghidupi keluarga sendiri, dengan skala yang begitu kecil. Sebagai akibatnya Hasil dari usahanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang sangat pendek (Nikijuluw. 2001). Masih menurut Nijuluw (2001), dalam kasus tertentu, mereka atau nelayan-nelayan ini masih dapat bekerja sama atau bermitra dengan perusahaan besar, sehingga mereka dapat pergi menangkap ikan lebih jauh dari pantai. Namun demikian, peningkatan penghasilan dari hasil kerja sama ini tidak banyak berarti karena jumlah anggota rumah tangga yang besar menyebabkan jumlah penghasilan mereka belum mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Mengacu pada pemikiran Soegijono (2008) tentang papalele sebagai budaya ekonomi lokal yang bertumbuh dan berkembang di tengah kegelisahan ini semakin kuat ketika perilaku ekonomi modern selalu mendominasi proses-proses penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan berbagai teknik dan strategi usaha di tataran lokal, maka penulisan Karya Ilmiah dengan judul “Pemodelan Papalele Sebagai Model Budaya Ekonomi Subsisten Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir” ini menjadi urgen diwacanakan sebagai model pemberdayaan masyarakat pesisir. Konsep pikir ini didasarkan pada kenyataan-kenyataan disaat kekuatan kapitalisme mengusai pasar yang ditandai dengan kemunculan pasar-pasar swalayan modern, metode penjulanan berjaringan, sampai pada penjualan melalui pasar teknologi eletronik dan sebagainya, ternyata masih terdapat segelintir masyarakat lokal yang mampu mempertahankan eksisitensi aktivitas ekonomi kelokalannya yang bersifat tradisional. Eksistensinya itu diwujudkan dalam bentuk melayani masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keseharian (Soegijono, 2008). Model ekonomi kelokalan yang bersifat tradisional dan sederhana ini umumnya dilakukan oleh rumah tangga sebagai pemilik berbagai faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian, maupun oleh organisasi yang dikembangkan seseorang atau sekumpulan orang dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam sistem ini hanya dikenal produksi dan konsumsi yang oleh Husin. S (2012) diklasifikasikan sebagai sistem ekonomi subsisten. Dalam konteks sistem ekonomi lokal masyarakat Ambon dan sekitarnya, papalele sudah tidak asing lagi sebab sudah terbukti mampu bertahan dikala kondisi resesi ekonomi dan perbankan yang melanda Indonesia tahun 1979 lalu. Antara tahun 1999 – tahun 2005 di kala masyarakat Maluku dihadapkan dengan konflik kemanusiaan maka sistem ekonomi lokal Ambon ini menunjukkan keeksistensinya. Di kala itu banyak bermunculan pasar kaget/ pasar bakudapa di kalangan dua komunitas yang bertikai kala itu dan semua itu karena peran serta para papalele. Hal mana lebih dikuatkan pula oleh Soegijono (2008) yang mengatakan bahwa; … “ketika papalele dilihat dalam perpektif ekonomi “keambonan” yang tetap survive berhadapan dengan kekuatan ekonomi kapitalistik…papalele tetap ada dalam kekuatan dan daya tawar pasar-pasar modern yang telah merasuk pada masyarakat kekiniaan. Papalele itu sendiri adalah sebutan lokal pada orang-orang yang melakukan aktivitas ekonomi jual-beli bagi masyarakat, dengan menampakan diri dalam aktivitas ekonomi tradisional, khususnya di bidang perdagangan yang dijalankan dengan cara membeli suatu barang dan kemudian menjual kembali dengan mendapat sedikit keuntungan (Souisa, 1999:39) 
2. Permasalahan 
Adapun permasalahan dari penulisan karya ilmiah ini adalah; bagaimana Pemodelan Papalele Sebagai Model Budaya Ekonomi Subsisten Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Permasalahan utama ini dapat dispesifikan lagi sebagai berikut: a.Apa saja potensi papalele sebagai model budaya ekonomi subsisten yang dapat dikembangkan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. b.Bagaimana SWOT-nya. c.Bagaimana strategi pengembangannya. 
3. Tujuan Penulisan 
Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah; mengembangkan pariwisata alam pesisir wilayah perbatasan dengan mengoptimalkan fungsi ekologi dan ekonomi hutan mangrove. Tujuan utama ini dapat dispesifikan lagi sebagai berikut: a.Mengidentifikasi apa saja potensi papalele sebagai model budaya ekonomi subsisten yang dapat dikembangkan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. b.Melakukan SWOT-nya. c.Membuat strategi pengembangannya. 

II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Papalele 
Papalele adalah sebutan lokal yang tidak asing bagi masyarakat kota Ambon dan sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang melakukan aktivitas ekonomi jual-beli bagi masyarakat. Papalele sering menampakan diri dalam aktivitas ekonomi tradisional, khususnya dibidang perdagangan yang dijalankan dengan cara membeli suatu barang dan kemudian menjual kembali dengan mendapat sedikit keuntungan (http://indonesiatimur.files.wordpress.com. Souisa, 1999). Papalele jika ditinjau dari etimologi; terdiri dari dua kata yaitu papa yang berarti membawa atau memikul dan lele yang berarti keliling. Jadi papalele berarti “berkeliling membawa atau memikul” (Souisa, 1999:38)2. Papalele juga dapat diartikan sebagai “melakukan kegiatan membeli barang, sesudah itu dijual lagi untuk mendapatkan keuntungan” (http://indonesiatimur.files.wordpress.com. Mailoa, 2006). Perempuan Papalele adalah aktivitas dagang tradisional sebagai salah satu jenis sektor informal yang dilakukan oleh perempuan atau wanita yang telah kawin maupun belum kawin dengan menjaja (mengkeku, bahasa Ambon) dengan berjalan sambil membawa barang dagangan di dalam dulang (papan atau loyang), berupa ikan asar atau ikan mentah, atau buah-buahan, makanan kering, sayur-sayuran, atau kebutuhan pangan lain yang diproduksi sendiri atau diambil dari produsen dengan modal sendiri. Papalele dalam aktivitasnya memiliki beberapa pola, hal ini terkait dengan proses menjual suatu barang : Pola pertama, : Papalele pola ini, biasanya setiap hari akan berkeliling kota, lingkungan pemukiman, dan perkantoran untuk menjumpai pembeli dan pelanggannya. Transaksi ataupun tidak transaksi, tetapi adalah kewajiban papalele menjumpai konsumen. Pola kedua, : Papalele, yang menggunakan paruh waktu untuk berkeliling kota dan lingkungan pemukiman (biasanya pagi atau sore), kemudian mengambil posisi tetap pada pasar atau lokasi tertentu menunggu pembeli. Pola ketiga, : Papalele yang sejak pagi hingga sore hari tetap menempati lokasi tertentu (pasar, depan perkantoran, depan swalayan dll). Pada waktu pulang, mereka akan menggunakan kesempatan berjalan sambil menjual (http://fisipmaxmaswekan.blogspot.com. Maswekan. M. 2012). Mengapa orang melakukan kegiatan ekonomi papalele. Menurut Soegijono (2008), ternyata terdapat 5 fenomena sebagai berikut; Pertama: Papalele dalam realitas ekonomi, mampu menjadi suatu katalisator dalam pembangunan masyarakat untuk mengatasi permasalahan kemiskinan. Kedua: Papalele memberikan kontribusi ekonomi bagi pembangunan daerah, tetapi mereka tidak mendapat posisi dalam pembangunan. Ketiga: Papalele berada dalam pusaran dan gunjangan badai krisis ekonomi, tetapi mereka tetap solid dan survive. Keempat: Terindikasi bahwa papalele memperkuat jejaring sosial dan kepercayaan dalam kelompoknya dan dengan luar kelompoknya. Kelima: Papalele memainkan peran sebagai agen antar komunitas yang mampu mempertahankan relasi orang basudara (salam-sarani3) dalam proses distribusi kebutuhan. 

2.Model Ekonomi Subsisten 
Papalele sebagai model ekonomi kelokalan yang bersifat tradisional dan sederhana ini oleh Husin. S (2012) diklasifikasikan sebagai sistem ekonomi subsisten. Masih menurut Husin. S (2012) Ekonomi Subsisten adalah perekonomian sederhana yang dilakukan oleh 2 sektor yaitu Sektor Rumah Tangga sebagai pemilik berbagai faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian dan Sektor Perusahaan merupakan organisasi yang dikembangakan seseorang atau sekumpulan orang dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam perekonomian subsisten hanya dikenal produksi dan konsumsi Sistem ekonomi subsisten memiliki karakteristik yaitu produksi untuk kebutuhan sendiri atau keluarga. Orientasinya pada kelangsungan hidup. Pada jaman dulu dalam ekonomi subsisten ini belum ada istilah "uang" sebagai alat tukar-menukar. Mereka yang belum tercukupi kebutuhannya bisa tukar menukar barang (barter) dengan tetangga atau kerabatnya. Kemampuan untuk hidup subsisten inilah yang mendorong terbentuknya prinsip hidup “secukupnya, yaitu mengambil kebutuhan-kebutuhan hidupnya sesuai dengan kebutuhannya” – yang tidak perlu harus mengambil berlebih dari yang dibutuhkan (menimbun untuk cadangan karena takut terjadi krisis pangan). (Dwidjono H. D. 2005). Bagaimana perdagangan ekonomi subsisten itu sendiri, seperti dikutip dari Husin S (2012) … bahwa dalam perdagangan ekonomi subsisten dikenal istilah barter yaitu perdagangan secara pertukaran barang dengan barang. Dalam perdagangan seperti itu haruslah wujud keadaan di mana (i) seseorang ingin menukar barang yang dihasilkannya dengan suatu barang lain, dan (ii) seorang lain memproduksi barang yang diingini oleh orang yang pertama. Tentang model ekonomi subsisten itu disebutkan bahwa dikala perdagangan secara barter tidak banyak lagi dilakukan seperti sekarang ini, maka pada kebanyakan perekonomian subsisten, uang telah digunakan sebagai alat perantara tukar menukar. Dengan adanya uang, maka untuk memperoleh suatu barang menjadi lebih sederhana. Mereka hanya perlu menjual hasil produksinya di pasar, dan dengan uang yang diperolehnya tersebut dapat digunakan untuk membeli sesuai keinginan (Husin, S. 2012). 

3. Pemberdayaan Masyarakat Pesisr 
3.1.Pemberdayaan Masyarakat 
Pemberdayaan sebagai proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan (Sutoro E, 2002). Konsep pemberdayaan (masyarakat desa) dapat dipahami juga dengan dua cara pandang. Pertama, pemberdayaan dimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat. Posisi masyarakat bukanlah obyek penerima manfaat (beneficiaries) yang tergantung pada pemberian dari pihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai subyek (agen atau partisipan yang bertindak) yang berbuat secara mandiri. Berbuat secara mandiri bukan berarti lepas dari tanggungjawab negara. Permendagri RI Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat, dinyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah suatu strategi yang digunakan dalam pembangunan masyarakat sebagai upaya untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Pasal 1 , ayat (8) ). Jadi inti pengertian pemberdayaan masyarakat merupakan strategi untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah memampukan dan memandirikan masyarakat terutama dari kemiskinan dan keterbelakangan/ kesenjangan/ ketidakberdayaan. Kemiskinan dapat dilihat dari indikator pemenuhan kebutuhan dasar yang belum mencukupi/ layak (Sunyoto U, 2004). Bagaimana strategi atau kegiatan yang dapat diupayakan untuk mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat ?. Ada beberapa strategi yang dapat menjadi pertimbangan untuk dipilih dan kemudian diterapkan dalam pemberdayaan masyarakat. Strategi 1 : Menciptakan iklim, memperkuat daya, dan melindungi. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu; pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Strategi 2 : Program Pembangunan Pedesaan. Pemerintah di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia telah mencanangkan berbagai macam program pedesaan, yaitu (1) pembangunan pertanian, (2) Industrialisasi pedesaan, (3) pembangunan masyarakat desa terpadu, dan (4) strategi pusat pertumbuhan (Sunyoto U, 2004). Senada dengan program pembangunan pedesaan, J. Nasikun (dalam Jefta Leibo, 1995), mengajukan strategi yang meliputi : (1) Startegi pembangunan gotong royong, (2) Strategi pembangunan Teknikal – Profesional, (3) Strategi Konflik, (4) Strategi pembelotan kultural.

3.2. Masyarakat Pesisir 
Masyarakan pesisir menurut Koentjaraningrat (1990) dalam Satria A (2002) adalah mereka yang berusaha menjaga keselarasan dengan alam. Contohnya: Sasi di Maluku sebagai salah satu sifat masyarakat pesisir yang hendak selaras dengan alam. Menurut Redfield (2002) dalam Satria A (2002); Masyarakat Pesisir adalah masyarakat yang termasuk dalam tipe representasi tipe komunitas desa petani dan desa terisolasi yang mencirikan suatu kebudayaan (folk). Menurut Kluckhon (2002) dalam Satria A (2002), disebutkan Masyarakat Pesisir adalah Masyarakat yang dicirikan oleh sikap mereka yang tunduk terhadap alam. Sikap tunduk kepada alam dilatarbelakangi oleh pemikiran mereka bahwa alam memiliki kekuatan magis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat pesisir adalah Kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain (Koentjaraningrat .1990). Sifat dan karakteristik masyarakat pesisir, sangat dipengaruhi oleh jenis kegiatan seperti usaha perikanan tangkap, usaha perikanan tambak, dan usaha pengelolaan hasil perikanan yang memang dominan dilakukan, sangat di pengaruhi oleh faktor lingkungan, musim dan juga pasar. Struktur masyarakat masih sederhana dan belum banyak dimasuki oleh pihak luar. Hal ini dikarenakan baik budaya, tatanan hidup, dan kegiatan masyarakat relatif homogen dan maasing-masing individu merasa mempunyai kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengawasi hukum yang sudah disepakati bersama. Sebagian besar masyarakan pesisir bekerja sebagai nelayan (Restu. W, 2012). Tipologi Nelayan adalah; dihadapkan pada situasi ekologis yang sulit dikontrol, karena perikanan tangkap bersifat Open acces maka nelayan juga harus berpindah-pindah dan terdapat elemen resiko yang harus dihadapi lebih besar dari pada yang resiko yang harus dihadapi oleh petani (Pollnack, 1998 dalam Widi Restu 2012). Selain itu nelayan juga harus berhadapan dengan kehidupan laut yang sangat keras. Oleh sebab itu nelayan mesti diberdayakan sehingga dapat survive dalam mempertahankan hidup yang memang umumnya masih berada di bawah taraf kemiskinan.

3.3. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PEMP) 
Saat ini banyak program pemberdayaan yang mengklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat. Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masyarakat diantaranya: a)Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut. Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional. Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya. b)Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan. Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal. Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan. c)Masyarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim. d)Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh (Syarif. E. 2007). Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka. Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh. Kebutuhan setiap kelompok yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok tersebut. Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompk dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah pesisir lainnya. Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom up dan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran. Banyak sudah program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah, salah satunya adalah Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Pada intinya program ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: (a)Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. (b)Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan, tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu. (c)Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari masyarakat itu sendiri (Syarif. E. 2007).

III. PEMBAHASAN 
Konsep pemodelan papalele sebagai model budaya ekonomi subsisten dalam pemberdayaan masyarakat pesisir, perlu didahului dengan langkah melakukan identifikasi terhadap potensi yang dimiliki oleh papalele, melakukan SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats) kemudian menentukan strategi pengembangannya. 1. Identifikasi Potensi Khas Papalele Identifikasi terhadap beberapa potensi khas papalele dapat dilakukan dengan cara mengkaji literature, dokumen, tentang kekuatan, kelemahan, peluang, maupun ancaman yang dihadapi papalele, melakukan observasi aktivitas papalele di lapangan, kemudian melakukan wawancara terhadap responden sebagai justifikasinya. Sebagai contoh pada perikanan Purse Seine: nelayan pemilik, nelayan ABK, mandoro, papalele, ketua koperasi nelayan/ UKM, Dinas kelautan dan perikanan, pihak Bank yang mengeluarkan KUR. Identifikasi beberapa potensi khas dalam pengembangan papalele sebagai model ekonomi subsisten dalam pemberdayaan masyarakat pesisir, sebagai berikut: Faktor Internal Kekuatan (Strengths‐S) 1.Maluku sebagai provinsi kepulauan yang sebagian besar penduduknya tinggal di pesisir pulau dengan nelayan sebagai pekerjaannya. 2.Luas laut dengan sumber daya perikanan yang beragam. 3.Dalam realitas ekonomi, mampu menjadi suatu katalisator dalam pembangunan masyarakat untuk mengatasi permasalahan kemiskinan (Kekuatan). 4.Papalele memberikan kontribusi ekonomi bagi pembangunan daerah, tetapi mereka tidak mendapat posisi dalam pembangunan (Kekuatan). 5.Papalele berada dalam pusaran dan gunjangan badai krisis ekonomi, tetapi mereka tetap solid dan survive (Kekuatan). 6.Terindikasi bahwa papalele memperkuat jejaring sosial dan kepercayaan dalam kelompoknya dan dengan luar kelompoknya (Kekuatan). 7.Papalele memainkan peran sebagai agen antar komunitas yang mampu mempertahankan relasi orang basudara (salam-sarani3) dalam proses distribusi kebutuhan (Kekuatan). 8.Papalele tumbuh dan berkembang dalam kondisi social dan budaya kelokalan: Kepercayaan penuh kepada pembeli/pelanggan, Modal sendiri (pinjaman keluarga), Penjual menjumpai pembeli, Kolektif dan solider dalam menentukan harga, Segmentasi pasar diatur bersama, Pemberian kelebihan hasil, Perjanjian jual beli secara informal (Kekuatan). 9.Adanya Sistem Bagi Hasil tangkapan (Kekuatan). Kelemahan (Weakness‐W) 10.Pola hubungan yang bersifat Patron-Klien: maksudnya karena keadaan ekonomi yang buruk, maka para nelayan kecil, buruh nelayan, petani tambak kecil, dan buruh tambak seringkali terpaksa meminjam uang dan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari dari para juragan atau para pedagang pengepul (tauke, tengkulak). Konsekuensinya, para peminjam tersebut menjadi terikat dengan pihak juragan atau pedagang. Keterikatan antara lain berupa keharusan menjual produknya kepada para pedagang atau juragan tersebut. pola hubungan yang tidk simetris ini tentu saja sangat mudah menjadi alat untuk mendominas dan mengeksploitasi (Kelemahan). Faktor Eksternal Peluang (Opportunities‐O) 11.Adanya Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dengan dasar pertimbangan sebagai berikut: Perairan dibawah yurisdiksi dan kedaulatan Indonesia, ZEEI serta laut lepas yang berdasarkan ketentuan Internasional mengandung sumberdaya ikan dan lahan pembudidayaan; dan ini harus dimanfaatkan; Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional berwawasan nusantara, sumberdaya ikan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat; dan tetap berpegang pada azas kelestarian sumber (Peluang). 12.Departemen kelautan dan perikanan (DKP) sejak tahun 2000 meluncurkan program PEMP. 13.Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu (Peluang). 14.Hukum Adat: Aturan-aturan yang digunakan umumnya timbul dan berakar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Aturan-aturan dan kebijakan ini kemudian di tetapkan, dikukuhkan dan disepakati bersama oleh masyarakat sebagai suatu undang-undang atau hukum adat. Dalam penerapannya, aturan- atuuran tersebut langsung diaplikasikan oleh masyarakat dan masyarakat juga yang akan melakukan pengawasan dan evaluasinya (Peluang). 15.Motorisasi Perikanan: dimaksudkan bahwa setelah motorisasi perikanan berkembang tidak sedikit dari nelayan yang berubah menjadi post-peasant fisher yang berarti lebih maju daripada peasant fisher. Ciri-cirinya antara lain sudah menggunakan teknologi lebih maju, seperti motor tempel. Seiring dengan pemanfaatan mesin penggerak perahu tersebut semakin membuka peluang bagi nelayan untuk menangkap ikan di wilayah perairan yang jauh lebih luas, bahkan bisa sampai laut lepas (offshore). Tentu saja, daya tangkapnya pun lebih besar sehingga memungkinkan bagi mereka untuk memperoleh surplus dari hasil tangkapan itu (Peluang). 16.Pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan. 17.Kampanye budaya makan ikan: ikan dijadikan sebagai sumber protein dalam konsumsi masyarakat secara nasional yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (Peluang). 18.Kampanye Maluku sebagai lumbung ikan nasional yang diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Judhojono belum lama ini. Ancaman (Threats‐T) 19.Pasar bebas yang merambah sampai sector perikanan (Ancaman). 20.Banyak bertumbuhnya lembaga-lembaga finance yang memberikan pinjaman cepat tetapi dengan sistem bunga yang ketat (Ancaman). 2. SWOT Pemodelan Papalele Sebagai Model Budaya Ekonomi Subsisten Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Setelah aspek‐aspek pemodelan papalele sebagai model budaya ekonomi subsisten dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dapat diidentifikasi, maka dilakukan pemberian bobot dan rarting. Bobot dan rating dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kepentingan (bobot) dan derajat kuat tidaknya pengaruh (rating) indikator-indikator tersebut terhadap pengembangan kawasan UPT Kabupaten Kepulauan Aru. Untuk memperoleh nilai bobot, tingkat pengaruh dari indikator‐indikator internal dan eksternal diberikan nilai rating dengan skala mulai dari angka 1 (tidak penting), 2 (agak penting), 3 (penting), dan 4 (sangat penting. Nilai negatif(‐) pada rating menunjukkan indikator tersebut merupakan kelemahan atau ancaman. Perhitungan selanjutnya adalah menentukan besarnya pengaruh, bobot, rating dan nilai total untuk tiap indikator strategi internal maupun eksternal. Sebagai contoh (diberikan contoh yang ekstrim .jumlah akhir indikator strategi internal (kekuatan dan kelemahan) pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa (tiga) model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan dalam kondisi lemah, sedang nilai total indikator strategi eksternal (peluang dan ancaman) dalam kondisi memiliki peluang, maka dengan demikian kondisi pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan berada pada posisi lemah tetapi memiliki peluang yang baik untuk pengembangan ke depan melalui beberapa strategi modeling dengan cara memodifikasi model yang sudah ada serta didukung oleh strategi kebijakan lainnya”. 3. Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil pengelompokkan faktor‐faktor strategis baik internal maupun eksternal, maka ada 4 alternatif strategi yang dapat di sarankan melalui matriks SWOT yaitu : •SO strategi (kekuatan‐peluang), yaitu memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut peluang sebesar‐besarnya. •ST strategi (kekuatan‐tantangan), yaitu memanfaatkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. •WO strategi (kelemahan‐peluang), yaitu meminimalkan kelemahan yang ada untuk memanfaatkan peluang. •WT strategi (kelemahan‐tantangan), yaitu meminimalkan kelemahan yang ada untuk menghindari ancaman. Masing masing strategi ini memiliki karakteristik tersendiri sehingga hendaknya dalam implementasi strategi tersebut dilaksanakan secara bersama dan saling mendukung satu sama lain. Berikut adalah hasil secara umum beberapa alternatif strategi antara lain: 1.Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. Kelembagaan ini juga dapat menjadi penghubung (intermediate) antara pemerintah dan swasta. Selain itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya. 2.Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtahuan, Tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu. Terlepas dari itu semua, peran pendamping sangatlah vital terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya. Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang tepat pada kelompok yang tepat pula. 3.Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana tersebut berhasil, mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk digulirkan kepada kelompok masyarakat lain yang membutuhkannya. Pengaturan pergulirannya akan disepakati di dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sendiri dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga pendamping. 4.Melakukan Pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan: Pola pertama, : Papalele pola ini, biasanya setiap hari akan berkeliling kota, lingkungan pemukiman, dan perkantoran untuk menjumpai pembeli dan pelanggannya. Transaksi ataupun tidak transaksi, tetapi adalah kewajiban papalele menjumpai konsumen. Pola kedua, : Papalele, yang menggunakan paruh waktu untuk bekeliling kota dan lingkungan pemukiman (biasanya pagi atau sore), kemudian mengambil posisi tetap pada pasar atau lokasi tertentu menunggu pembeli. Pola ketiga, : Papalele yang sejak pagi hingga sore hari tetap menempati lokasi tertentu (pasar, depan perkantoran, depan swalayan dll). Pada waktu pulang, mereka akan menggunakan kesempatan berjalan sambil menjual. Pola keempat: gabungan antara ketiga pola terdahulu yang selama ini sudah ada tetapi dengan sedikit modifikasi. Jika umumnya papalele selama ini memiliki modal usaha dari diri sendiri atau dari pihak keluarga, tetapi jika kepada mereka diberikan pinjaman melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maka dapat memberikan “bon” (barang atau dalam hal ini ikan/hasil perikanan dapat diberikan terlebih dahulu dan bayarannya dapat ditagih di awal bulan kemudian) kepada para pelanggannya. Dengan demikian, sebagian dari barang dagangan (ikan) para papalele akan diantarkan ke rumah para pelanggannya setiap hari, dan sebagian lagi akan dijual tunai. Pola ini dipandang sangat efesien sehingga para papalele tidak perlu menunggu waktu lama dalam berjualan, tetapi juga sangat efektif dalam mencegah barang dagangan (ikan) tidak terjual habis atau membusuk. Barang dagangan juga dapat ditukar dengan barang yang dibutuhkan oleh papalele. Barang pengganti kepada papalele tidak selamanya harus barang konsumtif saja, tapi bisa berupa barang untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak anak papalele seperti pakaian seragam, alat tulis dan buku. Jika pelanggan berprofesi sebagai guru misalnya, maka bayarannya dapat berupa jasa mengajar (les tambahan). Jika pelanggan berprofesi dalam bidang kesehatan misalnya maka bayarannya dapat berupa jasa pelayanan kesehatan (pemeriksaan, pemberian obat oral, suntik, dan lain sebagainya). 5.Pemberdayaan ekonomi keluarga nelayan dengan program-program produktif menunjang sektor industri perikanan (industri berbasis keluarga dan kearifan lokal). 6.Penataan Kurikulum Sekolah dan PT (Kurikulum berbasis laut-pulau dengan pendekatan karakter/ kearifan lokal) sehingga ekosistem pesisir pulau-pulau kecil dapat dijadikan sebagai Laboratorium alam.

IV. PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Berdasarkan permasalahan, tujuan, dan pembahasan maka beberapa kesimpulan yang dapat dibuat sebagai berikut: 1.Teridentifikasi 9 kekuatan papalele yang bertumpu pada papalele tumbuh dan berkembang dalam kondisi social dan budaya kelokalan: Kepercayaan penuh kepada pembeli/pelanggan, Modal sendiri (pinjaman keluarga), Penjual menjumpai pembeli, Kolektif dan solider dalam menentukan harga, Segmentasi pasar diatur bersama, Pemberian kelebihan hasil, Perjanjian jual beli secara informal (Kekuatan). Satu point kelemahan yaitu terdapat Pola hubungan yang bersifat Patron-Klien. Delapan point peluang dengan tumpuan adanya pemodelan aktivitas papalele kedalam beberapa model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan, serta dua point ancaman yang bertumpu pada .pasar bebas, dan maraknya lembaga-lembaga finance yang memberikan pinjaman cepat tetapi dengan sistem bunga yang ketat. 2.Jika jumlah akhir indikator strategi internal (kekuatan dan kelemahan) pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa (tiga) model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan dalam kondisi lemah, sedang nilai total indikator strategi eksternal (peluang dan ancaman) dalam kondisi memiliki peluang, maka dengan demikian kondisi pemodelan aktivitas papalele ke dalam beberapa model atau pola, terkait dengan proses menjual hasil tangkapan berada pada posisi lemah tetapi memiliki peluang yang baik untuk pengembangan ke depan melalui beberapa strategi modeling dengan cara memodifikasi model yang sudah ada serta didukung oleh strategi kebijakan lainnya”. 3.Direkomendasikan adanya Pola keempat model papalele yang merupakan modifikasi gabungan ketiga pola terdahulu yang selama ini sudah ada. 

B. Saran 
Berdasarkan kesimpulan maka beberapa saran yang dapat diajukan sebagai berikut: 1.Dengan telah dilakukannya penulisan makalah Pemodelan Papalele Sebagai Model Budaya Ekonomi Subsisten Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, maka diharapkan untuk dapat dilakukan penelitian Skripsi dengan pendekatan dan metode yang lebih komprehensif. 2.Perlu dilakukan penataan Kurikulum Sekolah dan PT (Kurikulum berbasis laut-pulau dengan pendekatan karakter/ kearifan lokal) sehingga ekosistem pesisir pulau-pulau kecil dapat dijadikan sebagai Laboratorium alam. 

 DAFTAR PUSTAKA 
Husin, Salman.2012. Metodologi Dan Liputan Analisis Ekonomi Mailoa, 2006 http://indonesiatimur.files.wordpress.com/2008/03/prosiding-diskusi-papalele-march-6-2008.pdf, diunduh 27-08-2013
Maswekan, Max. 2012. Studi Terhadap Perempuan Papalele di Kota Ambon) http://fisipmaxmaswekan.blogspot.com/2012/02/papalele-studi-terhadap-perempuan.html, diunduh 27-08-2013 
Nikijuluw. V.P.H. 2001. Populasi dan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir serta Strategi Pemberdayaan Mereka Dalam Konteks PengelolaanSumberdaya Pesisir Secara Terpadu, www.academia.edu, Share research
Satria A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Penerbit Cidesindo, Jakarta Souisa, (1999:39) http://indonesiatimur.files.wordpress.com/2008/03/prosiding-diskusi-papalele-march-6-2008.pdf, diunduh 27-08-2013 
Simon Pieter Soegijono. 2008. Papalele; Budaya Ekonomi Lokal, paper, materi presentasi powerpoint dan prosiding diskusi, UKSW, Salatiga 
Syarief E. 1995. Pembangunan Kelautan Dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Kertas Kerja KPEL. Staf Teknis Perencanaan di Sekretariat Koordinasi Pengembangan Ekonomi Lokal Bappenas http://akuntansibubung.wordpress.com/tag/sistem-ekonomi-pasar/ diunduh 27-08-2013 http://adf.ly, 
Widi Restu. 2012. Karakteristik Masyarakat Pesisir, diunduh 27/08/2013 http://indomaritimeinstitute.org/?p=1943, Laut Pantura Tak Biru Lagi, diunduh 27/08/2013 http://id.scribd.com/doc/82406952/, Kepulauan Maluku, diunduh 27/08/2013 http://id.wikipedia.org/wiki/, Maluku, diunduh 27/08/2013 http://pajsindonesia.wordpress.com, 
Dwidjono H. Darwanto (2005) dalam , Juche (2013), Budaya Kebersamaan (Komunal) Dan Kemandirian (Subsiten) Dalam Keterbatasan Sumberdaya Kehidupan, /2013/08/13/, diunduh 27/08/2013

Senin, 16 September 2013

Kamis, 29 Agustus 2013

Minggu, 11 November 2012

Formula Arah Dan Indeks Pertumbuhan Telur Dan Larva Geohelminths di 7 Jenis Tanah Perdesaan Pulau Ambon Oleh: Salakory Melianus* (*Geografi FKIP Unpatti Ambon: Medical Geography) ABSTRAK Tujuan yang ingin dicapai adalah; untuk menemukan formula arah dan indeks pertumbuhan telur dan larva Geohelminths di 7 jenis tanah perdesaan Pulau Ambon. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Experimental di laboratorium (kultur invitro). Hasil penelitian adalah: diperoleh 6 (enam) formula dinamika pertumbuhan; ++ Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih cepat dan mencapai tahap embrio dalam kurun waktu lebih cepat. + Pertumbuhan Normal dan berlangsung dalam setiap tahap dengan kurun waktu yang relatif sama (hampir tidak ada perbedaan waktu yang besar). +-Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih cepat, kemudian mengalami pengunduran perkembangan pada tahap tahap kemudian (membutuhkan waktu lama). -- Pertumbuhan berlangsung pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, terjadi degradasi struktur telur. - Pertumbuhan dalam setiap tahap berlangsung agak lama dan masih berada di bawah pertumbuhan normal. -+Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (membutuhkan waktu sedikit untuk mencapai tahap berikutnya). Ditemukan juga 63 formula Indeks Pertumbuhan untuk tiap jenis telur dan larva Geohelminths menurut media cawan petrinya. Kesimpulan: Telah dihasilkan 63 formula indeks dan 6 formula arah pertumbuhan telur dan larva Geohelminths di 7 jenis tanah perdesaan Pulau Ambon. Indeks dan arah pertumbuhan A. Lumbricoides berbeda dengan T. trichiura, dan cacing kait sesuai jenis tanah dan kondisi kebasahan tanah (basah, kering, lembab). Oleh sebab itu dianjurkan kepada para peneliti terutama dengan bidang kajian Tropical Medicine dan Parasitologi Kedokteran, untuk dilakukan penelitian lanjutan di lapangan dengan memasukkan variabel-variabel lain yang belum diujikan, maupun dengan metode penelitian dan teknik analisis yang lain. Key Words: arah, indeks pertumbuhan, Geohelminths PENDAHULUAN Salah satu penyakit parasitik di Indonesia yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah infeksi dengan Geohelminths terutama di daerah tropik negara-negara berkembang khususnya pada masyarakat dengan keadaan sosial ekonomi rendah di perdesaan. Daur hidup Geohelminths dipengaruhi oleh faktor inang (manusia), faktor agen (cacing), dan faktor lingkungan. Faktor inang, yang berperan adalah kebiasaan dari masyarakat baik secara langsung mau pun tidak langsung. Faktor lingkungan, merupakan kondisi ekoepidemiologi yang dibutuhkan bagi proses pematangan telur cacing menjadi telur yang infektif atau menjadi larva. Apabila kondisi ini terpenuhi, maka telur-telur cacing akan cepat matang dan siap menginfeksi manusia. Faktor agen (cacingnya), yang terpenting adalah daya tahan cacing atau telur dan larva terhadap kondisi yang kurang baik bagi kelangsungan hidupnya. Pematangan telur Geohelminths di tanah membutuhkan kondisi lingkungan fisik tertentu. Telur A. lumbricoides misalnya, lebih cepat matang pada kondisi tekstur tanah dengan kandungan pasir lebih banyak. Telur A. lumbricoides juga tahan terhadap suhu udara yang tinggi walau akan mati dalam 1 jam pada suhu udara 45oC. Ogata (1924 a & b) dalam Morishita (1972), menyebutkan bahwa pertumbuhan normal telur A. lumbricoides sampai mencapai larva pada suhu 15oC – 34oC walau pun kecepatan perkembangannya beragam dalam inkubator. Telur dan larva cacing kait cepat matang pada kondisi tekstur lepas dengan campuran humus, dan kondisi porositas serta kandungan air tanah yang tinggi. Telah dilakukan penelitian pendahuluan di Laboratorium Parasitologi Universitas Gadjah Mada dengan menggunakan metode kultur invitro terhadap telur cacing kait yang berasal dari tinja anjing dan ditanam pada tanah berpasir serta dalam kondisi basah (diberikan campuran aquades sampai tanah menjadi basah betul), serta diletakkan pada inkubator dengan suhu kamar (25oC). Hasilnya menunjukkan bahwa pada pengamatan awal sebelum ditanam terlihat telur dengan 4 sel, 6 sel dan 8 sel dengan bentuk lonjong, dinding tipis bening satu lapis. Setelah ditanam pada cawan petri, di hari pertama pengamatan terlihat sebagian besar telur mengalami perubahan ke stadium morula (menunjukkan bentuk larva). Hari kedua pengamatan terlihat perubahan ke arah bentuk larva makin jelas. Hari ke tiga, tidak ditemukan lagi perubahan ke arah pertumbuhan larva bahkan terlihat fisik telur cenderung mengerut dan inti di dalamnya berkerut atau mengecil dari hari ke dua. Setelah diperiksa kondisi fisik media tanah dalam cawan petri terlihat tanah dalam kondisi kering walau keadaan suhu tetap. Atas dasar itu, maka kemudian dari 8 cawan petri yang ada, 3 cawan petri kemudian diberikan tambahan air sedangkan sisanya tidak. Pada pemeriksaan hari keempat, terlihat perubahan ke arah perkembangan inti telur yang berasal dari cawan petri yang diberikan tambahan air, sedangkan pada cawan petri yang tidak diberikan tambahan air sudah tidak ditemukan lagi telur cacing kait. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa telur cacing kait akan cepat matang dan berubah menjadi larva pada kondisi tanah yang basah atau lembab. Apabila suasana atau kondisi ini terpenuhi untuk proses pematangan telur-telur, maka dapat dikatakan bahwa daerah tersebut merupakan daerah endemis infeksi cacing yang penularannya melalui tanah. Di wilayah pulau Ambon, data tentang Geohelminths yang diperoleh dari laporan bulanan Puskesmas sejak tahun 2004, 2005, dan sampai Juli 2006 menunjukkan angka yang bervariasi. Terlihat bahwa ada daerah dengan prevalensi tinggi, ada daerah dengan prevalensi rendah, ada pula daerah dengan prevalensi di antara keduanya. Daerah dengan kondisi geografis tertentu memiliki prevalensi tinggi untuk jenis infeksi cacing tertentu, atau pun sebaliknya. Dari peta tanah yang dihasilkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Tahun 1989), Lasaiba (2006), diketahui bahwa di Pulau Ambon terdapat 7 jenis tanah dengan sebaran yang berbeda. Apakah ada hubungan antara prevalensi Geohelminths yang berbeda-beda itu dengan 7 jenis tanah dan sebaran yang berbeda tersebut?. Melalui suatu penelitian Experimen di Laboratorium (kultur invitro) diharapkan kejadian infeksi Geohelminths yang bervariasi ini dapat dijelaskan dengan terlebih dahulu mengetahui bagaimana formula arah dan indeks pertumbuhan telur dan larva Geohelminths di 7 jenis tanah perdesaan Pulau Ambon? Penelitian ini didasari oleh ogata (1923 b), menurut Morishita (1972) yang melakukan pemaparan terhadap telur A. lumbricoides untuk melihat resistensi telur terhadap beberapa agen fisik. Dikatakan bahwa resistensi telur A. lumbricoides adalah kemampuan untuk bertahan atau kelangsungan hidup telur-telur terhadap pemaparan saat eksperimen mau pun pada kondisi yang sebenarnya di alam pada suatu agen dengan kondisi-kondisi tetap. Dikatakan selanjutnya bahwa kriteria untuk telur-telur yang mati atau yang hidup berdasarkan kriteria morfologi adalah; a) vakuolasi dalam sitoplasma sel-sel telur (terutama berkaitan dengan degenerasi lemak), b) sitolisis, c) penyusutan dari sel-sel telur, d) pembungkus atau bagian permukaan dari sel telur. Telur A. lumbricoides, menurut Morishita (1972), selain resisten pada beberapa agen fisik seperti; temperatur, kekeringan, cahaya, sinar-sinar radio aktif, juga resisten pada agen kimia. Observasi yang lebih detail pada telur-telur diperlakukan dengan beragam bahan kimiawi oleh Yanasigawa (1955) dalam Morishita (1972). Dikemukakan tentang kriteria untuk telur-telur yang mati atau yang hidup dengan memperlihatkan bentuk abnormal telur yang secara morfologis diklasifikasikan sebagai berikut: 1)Perubahan dalam tahap satu sel adalah granulasi, penyusutan, mallokasi, pembentukan gelembung yang kecil atau besar, hyalinasi sitoplasmik, deformasi dan disintegrasi, tiga perubahan pertama yang terjadi menandakan rusak parah. 2)Perubahan dalam tahap perkembangan secara garis besar terbagi dalam dua bagian, yang pertama adalah embrio yang terpisah secara tidak normal yang merupakan karakteristik dari kehadiran blasmer-blasmer dengan ukuran tak seimbang di tahap awal dan embrio yang pecah di tahap akhir, dan yang lainnya adalah bentuk yang beragam sebagaimana terlihat dalam tahap satu sel, yang kelihatan dalam tiap blasmer atau dalam embrio. Bentuk ini diamati terjadi dalam telur-telur yang kelihatan pada beragam bahan kimia dan secara memuaskan digunakan untuk pengungkapan telur-telur yang rusak. Dinyatakan dalam Morishita (1972), secara umum perkembangan normal dari telur A. lumbricoides terjadi pada suhu yang berkisar antara 15o – 34oC hingga mencapai tahap larva, walaupun kecepatan perkembangannya beragam dengan suhu dimana telur-telur tersebut terinkubasi. Menurut Ogata (1923) dalam Morishita (1972), yang melakukan uji viabilitas telur dengan didedah pada air panas dalam beragam suhu untuk beragam periode waktu, dilaporkan bahwa semua yang terdedah pada suhu lebih rendah dari 45° C selama satu jam memperoleh kemampuan mereka untuk berkembang sampai tahap larval. Mereka yang terdedah pada suhu 50°C selama 5 menit dan beberapa di antaranya pada suhu 50°C selama 30 menit memperoleh kembali viabilitasnya, namun tidak ada perkembangan yang terjadi pada suhu 50°C selama 45 menit. Pembentukan larva teramati dalam suhu 55°C sampai 20 detik. Mayoritas dari telur yang berada pada suhu 65°C selama satu detik dan pada suhu 60°C selama 5 detik atau lebih ditemukan kehilangan viabilitasnya. Waktu minimum yang dipersyaratkan untuk pembunuhan semua telur didedah pada suhu yang beragam seperti 50°C, 55°C, 60°C, dan 70°C yaitu selama periode waktu 45 menit, 50 detik, 5 detik dan satu detik. Pengaruh sinar ultraviolet terhadap viabilitas telur A. lumbricoides pertama-tama diinvestigasi oleh Sasaki (1927), sebagaimana dikemukakan oleh Morishita (1972). Telur pada kultur diiradiasi dengan lampu sinar matahari artifisial yang ditempatkan pada jarak 20 cm dari telur. Waktu yang dipersyaratkan untuk mencapai tahap larval meningkat dengan meningkatnya periode iradiasi. Iradiasi selama sepuluh menit atau lebih sekali dalam sehari menghasilkan suatu inhibisi dari perkembangan telur. Mayoritas telur yang diiradiasi selama 30 menit atau lebih per hari ditemukan tetap pada tahap yang lebih awal daripada tahap larval dengan pengujian pada kultur hari keduapuluh, namun sedikit diantara mereka yang ditemukan mencapai tahap larva. Kelompok Skor Pretes Perlakuan Skor Tes Total Kelompok Perlakuan O1.a X1.a O2.a . . . . ..Ok TIk O1.b X1.b O2.b . . . . ..Ok TIk O1.c X1.c O2.c . . . . ..Ok TIk . . . . . . . ... . . . . . . . . ... . . . . . . . . ... . Ok Xk.i Ok . . . . ..Ok TIk Keterangan: Pengaruh Perlakuan: 1.Arah Pertumbuhan = O2.a – O1.a 2.Indeks Pertumbuhan = Besar Kecil Nilai Total Indeks (TI) Tanah I.a : Jenis Aluvial dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.I.b : Jenis Aluvial dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah I.c : Jenis Aluvial dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah II.a : Jenis Brunisem dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.II.b : Jenis Brunisem dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah II.c : Jenis Brunisem dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah III.a : Jenis Gleisol dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.III.b : Jenis Gleisol dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah III.c : Jenis Gleisol dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah IV.a : Jenis Kambisol dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.IV.b : Jenis Kambisol dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah IV.c : Jenis Kambisol dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah V.a : Jenis Litosol dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.V.b : Jenis Litosol dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah V.c : Jenis Litosol dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah VI.a : Jenis Podsolik dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.VI.b : Jenis Podsolik dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah VI.c : Jenis Podsolik dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Tanah VII.a : Jenis Rensina dikondisikan kering, dikultur dengan telur GH Tanah.VII.b : Jenis Rensina dikondisikan basah, dikultur dengan telur GH Tanah VII.c : Jenis Rensina dikondisikan lembab, dikultur dengan telur GH Gambar 1.Skema Penelitian Experimental di laboratorium dengan Rancangan Time Series Desain Kelompok Eksperimen Sumber: Didesain oleh peneliti dengan modifikasi dari Pratiknya (1986); Bhisma (1997), Tahun 2009 Untuk memperoleh media tanah sesuai jenis tanah yang ada di perdesaan Pulau Ambon, dengan berpatokan pada Peta Tanah Pulau Ambon Skala 1: 50.000 yang dihasilkan oleh Fakultas Pertanian Unpatti (1985), Lasaiba (2006) untuk Kota Ambon, dan citra Landsat TM 30 tentang pulau Ambon. Dipilih 7 unit lahan (cluster) yang mewakili unit lahan Aluvial dengan penggunaan lahan permukiman, Rensina, Gleisol, Kambisol, Brunisem, dan Podsolik. Dari tiap unit lahan kemudian dibuat garis secara diagonal mengikuti pola permukiman. Pada garis tersebut, ditentukan 2 buah titik untuk diambil tanahnya untuk dipergunakan sebagai media kultur sebanyak 5Kg tiap jenis tanah (dari salah satu titik sampel tanah), dengan kedalaman rata-rata 5Cm. Untuk mengetahui dinamika pertumbuhan telur dan larva di tanah, dilakukan pengamatan setiap hari sebanyak 63 cawan petri yang berisikan telur dan larva Geohelminths (3 jenis) dari 7 jenis tanah dalam 3 kondisi (basah, kering, lembab) yang di kultur invitro. Untuk keperluan pengamatan ini akan dibuat foto, menggunakan camera digital dari hasil pengamatan pada mikroskop dengan pembesaran 40. Pengataman terhadap struktur dan tekstur telur Geohelminths dilakukan berbasarkan kriteria degeneratip telur yang dikemukakan oleh Morishita (1972). Pemeriksaan dilakukan secara kualitatif. Alat-alat dan bahan yang diperlukan: 1 Lidi 2 Sendok teh 3 Gelas beaker 30 ml 4 Tabung Reaksi 5 Gelas benda 6 Gelas penutup 7 Larutan MgSO4 Cara Kerja: 1.Tanah diambil (dari sampel tanah) dengan ukuran kira-kira 1 sendok teh , lalu masukan dalam gelas beaker 2.Tanah tersebut kemudian dilarutkan dengan larutan MgSO4 sedikit demi sedikit sampai homogen. 3.Larutan dituang ke dalam tabung reaksi yang sudah disiapkan di rak, sampai tinggi cairan memenuhi permukaan tabung. 4.Gelas penutup diletakkan di atas permukaan cairan (gelas penutup menempel di atas permukaan, jaga jangan sampai cairan tumpah). 5.Didiamkan selama 30 – 45 menit. 6.Gelas benda disiapkan dan berikan 1 tetes larutan Lugol di atasnya. 7.Gelas penutup diambil dengan pinset, kemudian diletakkan di atas gelas benda (secara hati-hati sehingga tidak terdapat gelembung udara). 8.Diperiksa dengan mikroskop pada pembesaran lemah 10 X (Lawrence, 1991). Untuk menampilkan data-data hasil pengukuran variabel dinamika perkembangan telur yang dibuahi dan larva Geohelminths infektif di tanah, dilakukan secara deskriptif. HASIL Kultur invitro yang dilakukan, dimaksudkan untuk memperoleh suatu formula tentang dinamika pertumbuhan telur fertil menjadi telur infektif dan larva untuk jenis Cacing kait. Pertumbuhan telur Geohelminths sesuai hasil kultur invitro dapat dilihat pada tampilan gambar 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Hasil penelitian eksperimental melalui kultur invitro yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu formula tentang dinamika pertumbuhan telur fertil menjadi telur infektif dan larva untuk jenis Cacing kait, memberikan hasil sebagaimana tergambar pada tabel 1 dan tabel 2 tentang arah dan indeks pertumbuhannya. Dari tabel 1, terlihat bahwa semakin tinggi nilai TI (total indeks) makin baik pertumbuhan telur dan larva Geohelminths. Makin sedikit atau kecilnya nilai pada kolom tahap pertumbuhan mengindikasikan pertumbuhan makin baik, kecuali pada kolom terakhir nilai yang besar mengindikasikan pertumbuhan baik. Cawan petri dengan tanah Aluvial yang dalam kondisi kering A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama Tabel 1. Deskripsi Pertumbuhan Telur dan Larva Geohelminths Sesuai Media Tanah berada pada fase morula akhir (tahap 3). Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva (tahap 4) Rabditiform maupun Filariform. Tanah Aluvial dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform maupun Filariform (tahap 4). Tanah Aluvial dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform maupun Filariform (tahap 4). Tanah Aluvial dalam kondisi lembab A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva (tahap 4) Rabditiform maupun Filariform. Tanah Brunisem dalam kondisi kering, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling lama pada fase morula awal (tahap 2) dan lebih cepat pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke 18. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 2 sel (tahap 2) cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke 18. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6-8 sel (tahap 1), mengalami pertumbuhan normal pada fase morula (tahap 2) dan larva Rabditiform (tahap 3) dan mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 11. Tanah Brunisem yang dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula awal (tahap 2), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4). Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), kemudian mengalami degradasi setelah fase pembelahan lanjut (tahap 3) setelah hari ke-39. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), kemudian mengalami pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2), dan lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform (tahap 3) maupun Filariform (tahap 4). Tanah Brunisem dalam kondisi lembab, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan pertumbuhan normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3) kemudian mencapai fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-29. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan rata-rata lambat pada setiap fase, kemudian mengalami degradasi setelah mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3) di hari ke-22. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6-8 sel (tahap 1), kemudian mengalami pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2), dan lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform (tahap 3) maupun Filariform (tahap 4). Media cawan petri dengan tanah Gleisol dalam kondisi kering, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan lebih normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3) dan kemudian mengalami fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-33 dan bahkan bertahan pada cawan petri tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 1 sel (tahap 1) mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-15. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 17. Tanah Gleisol yang dalam kondisi basah, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan mengalami pertumbuhan normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3), kemudian mengalami fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-39. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 2 sel (tahap 2), mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3) dan bertahan cukup lama pada fase tersebut, kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-45. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 20. Tanah Gleisol yang dalam kondisi lembab, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan mengalami pertumbuhan lambat pada fase morula akhir (tahap 3), kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-44. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan lambat pada fase 2 sel (tahap 2), kemudian mengalami pertumbuhan cukup cepat pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), dan pada akhirnya masuk ke fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-33 dan bertahan cukup lama pada fase tersebut. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke-20. Dari tabel 1 terlihat bahwa A. lumbricoides mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap embrio (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Aluvial lembab dengan persentase TI (Indeks Pertumbuhan Maksimum/ IPT x 100) sebesar 77,78%, Aluvial basah 74,30%, dan Gleisol kering 70,14%. A. lumbricoides mengalami pertumbuhan normal (+), pada Rensina kering 75.69%, Rensina basah 74,30%, Rensina lembab 71,53%, Brunisem lembab 68,05%, Aluvial kering 59,02%, dan Gleisol basah 66,67%. A. lumbricoides mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, terjadi degradasi struktur telur (-- ), pada media tanah Brunisem kering 18.05%, Kambisol kering dan Litosol kering 11,80%, Podsolik kering, Podsolik basah dan Podsolik lembab 2,08%. A. lumbricoides mengalami pertumbuhan di awal-awal normal kemudian melambat (+-), pada media tanah Kambisol basah 69,44%, Kambisol lembab dan Litosol basah 68,05%, Litosol lembab 66,66%. A. lumbricoides mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+) pada media tanah Brunisem basah 60,42%. Hasil yang dicapai dalam proses pertumbuhan telur A. lumbricoides ini sejalan dengan Bundy and Cooper (1989) yang menemukan bahwa Telur A. lumbricoides, tahan terhadap suhu yang ekstrim dibanding T. trichiura, dan Cacing kait, tetapi hasil penelitian justru T. trichiura yang lebih bertahan dalam kondisi kering dibandingkan A. lumbricoides. Distribusi pertumbuhan telur A. lumbricoides (indeks pertumbuhan) pada satuan lahan Pulau Ambon dapat dilihat pada gambar 38 (Lampiran). T. trichiura mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap embrio (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Aluvial basah 78,47%, dan Aluvial lembab 70,08%. T. trichiura mengalami pertumbuhan normal pada Podsolik lembab dan Rensina lembab 63,89%. T. trichiura mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu relatif lama, serta terjadi degradasi struktur telur (--), pada media tanah Brunisem lembab 28,47%, Litosol basah, Rensina basah 24,30%, Brunisem kering 18,05%, Rensina kering 18,75%, Gleisol kering 15,97, Kambisol kering 13,19%, Litosol kering 5,55%, Kambisol basah, Kambisol lembab 0%. T. trichiura mengalami pertumbuhan dalam setiap tahap berlangsung agak lama berada di bawah pertumbuhan normal (-) pada media tanah Gleisol basah 50,69%, Brunisem basah 40,97%, Litosol lembab 38,89%, Podsolik kering 25,69%. T. trichiura mengalami pertumbuhan di awal-awal normal kemudian melambat (+-) pada media tanah Podsolik basah 62,5%. T. trichiura mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+), pada media tanah Gleisol lembab 63,19%. Distribusi pertumbuhan telur T. trichiura (indeks pertumbuhan) pada satuan lahan Pulau Ambon dapat dilihat pada gambar 39 (Lampiran). Cacing kait mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap larva Rabditiform maupun filariform (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Litosol lembab 57,64%, Kambisol kering 32,64%, Aluvial kering, Aluvial basah, Aluvial lembab, Kambisol basah, 29,17%. Cacing kait mengalami pertumbuhan normal (+) pada media tanah 20,14%. Cacing kait mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, serta terjadi degradasi struktur telur (--), pada media tanah Kambisol lembab 40,97%, Rensina basah, Rensina lembab 24,30%, Podsolik basah 17,36%, Podsolik kering 11,80%, Podsolik lembab 8,33%, Rensina kering 6,25%, Litosol kering 3,47%. Cacing kait. mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+), pada media tanah Gleisol lembab 35,42%, Gleisol kering 32,64%, Gleisol basah 31,25%, Brunisem basah, Brunisem lembab 21,53%, dan Litosol basah 18,75%. Larva Cacing kait ditemukan berasal dari spesies Necator americanus (lihat gambar 10) Gambar 10: Larva Necator americanus Pada Kultur Hari Ke-5 Sumber: Hasil Kultur Invitro, Tahun 2009 Dari tabel 1 disusun 63 formula Indeks Pertumbuhan untuk tiap jenis telur dan larva Geohelminths menurut media cawan petrinya sebagaimana terlihat pada tabel 2. PEMBAHASAN Dari hasil kultur tersebut, terungkap bahwa ada resistensi telur Geohelminths. Resistensi tersebut berupa suatu kemampuan untuk bertahan atau viabilitas telur-telur yang diperlihatkan selama eksperimental pada suatu agen dengan kondisi-kondisi tetap. Menurut Ogata (1923b), dapat dipergunakan 3 kriteria bagi telur-telur yang mati ataupun yang hidup yaitu kriteria melalui metode kultur, kriteria morfologis, dan kriteria dengan penodaan. Dalam penelitian ini digunakan kriteria melalui metode kultur. Disebutkan oleh Inatomi dalam Morishita (1972) bahwa kriteria dengan metode kultur memiliki reliabilitas yang tinggi. Dalam metode ini telur A. lumbricoides ditempatkan dalam agen tanah dengan kondisi jenis tanah yang berbeda dan dalam keadaan kering, lembab, basah, dan pada suhu 25oC (suhu kamar). Setelah suatu periode tertentu perkembangan telur-telur Geohelminths tersebut diperiksa untuk melihat pertumbuhan atau perubahan morfologi telur dan larva pada tiap tahap pertumbuhan dalam media cawan petri. Fushumi dalam Morishita (1972), yang menyelidiki kembali kerja Brown, mengemukakan suatu formula tentang indeks pertumbuhan dari telur A. lumbricoides. Ia membaginya atas enam bagian berdasarkan tahap pertumbuhan mereka yaitu tahap satu sel, tahap morula awal, tahap morula akhir, tahap tadpole, tahap embrio mortil, dan telur yang terdegenerasi, dengan tiap tahap tersebut secara komparatif diberi nilai 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 yang disebut sebagai angka indeks. Pertumbuhan telur dan larva Cacing kait ditemukan berhenti berkembang pada suhu 41oC (Undosi and Atata, 1987; Smith and Schad, 1989, dalam Brooker, 2006). Ogata (1923b) dalam Morishita (1972), mengemukakan bahwa perubahan morfologi yang kelihatan dalam telur yang mati adalah (1) vakuolasi dalam sitoplasma sel-sel telur (terutama berkaitan dengan degenerasi lemak), (2) sitolisis, (3) penyusutan dari sel telur, dan (4) kerusakan pada bagian permukaan dari sel telur atau jubah protein. Ogata juga mencatat okurensi telur-telur mati tanpa perubahan morfologis yang bisa dicatat. Bentuk abnormal yang kelihatan dalam telur ini secara morfologis diklasifikasikan sebagai berikut. (1) Perubahan dalam tahap satu sel, yakni granulasi, penyusutan, mallokasi, pembentukan gelembung yang kecil atau besar, hyalinasi sitoplasmik, deformasi dan disintegrasi. Tiga perubahan pertama yang terjadi menandakan telur mengalami kerusakan parah. (2) Perubahan dalam tahap perkembangan, secara garis besar terbagi dalam dua bagian yaitu (a) embrio yang terpisah secara tidak normal yang merupakan karakteristik dari kehadiran blasmer-blasmer dengan ukuran tak seimbang di tahap awal dan embrio yang pecah di tahap akhir, dan (b) bentuk yang beragam sebagaimana terlihat dalam tahap satu sel yang kelihatan dalam tiap blasmer atau dalam embrio. PENUTUP Dihasilkan 63 formula indeks dan 6 formula arah pertumbuhan telur dan larva Geohelminths di 7 jenis tanah perdesaan Pulau Ambon. Indeks dan arah pertumbuhan A. Lumbricoides berbeda dengan T. trichiura, dan cacing kait sesuai jenis tanah dan kondisi kebasahan tanah (basah, kering, lembab). Dengan dihasilkannya formula indeks dan arah pertumbuhan telur dan larva Geohelminths dari 7 jenis tanah perdesaan Pulau Ambon, maka dianjurkan kepada para peneliti terutama dengan bidang kajian Tropical Medicine dan Parasitologi Kedokteran, untuk dilakukan penelitian lanjutan di lapangan dengan memasukkan variabel-variabel lain yang belum diujikan, maupun dengan metode penelitian dan teknik analisis yang lain. DAFTAR PUSTAKA 1.Alfonso J, Morales R., 2006. Link between Public Health Policy and Ecoepidemiology in the Integrated Control of Publicc Health Problems: the Example of Malaria in Venezuela, Sociedad Cientifica de Estudianted de Mediciana de la UCV, Google, http://www.geocities.com /actacientificaestudiantil2/39_2006.pdf, Download 16/05/ 2006 2.Bhisma M., 1997. Prinsip Dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta 3.Boes J, Medley G F, Eriksen L, Roepstorff A, Nansen P., 1998. Distribution Of Ascaris lumbricoides Suum In Experimentally And Naturally Infected Pigs And Comparasion With Ascaris lumbricoides Infection In Humans, Parasitology, PMID: 9881384 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 15/11/ 2005 4.Bradley JE., Jackson JA., 2004. Immunity, Immunoregulation And The Ecology Of Trichuriasis And Ascariasis, Parasite Immunol, PMID: 15771679 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 15/11/ 2005 5.Buckman H O, Brady N C., Terjemahan Soegiman, 1982. Ilmu Tanah, Bharatara Karya Aksara, Jakarta 6.Dinkes Kota Ambon., 2006. Rekap Laporan Bulanan Puskesmas di perdesaan Pulau Ambon Tahun 2004, 2005, Januari – Juli 2006 7.Elkins D B, Haswell-Elkins M, Andersons R M., 1986. The Epidemiology And Control Of Intestinal Helminths In The Pulicat Lake Region Of Southern India. I. Study Design And Pre And Post-Treatment Observations On Ascaris lumbricoides Infection, Trans R Soc Trop Med Hyg, PMID: 3603617 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 15/11/ 2005 8.Lawrence R, Orihel. T C., 1991. Paratities: A Guide To Laboratory Procedures and Identification, ASCP Press, American Society of Clinical Pathologists Chicago Lo C T, Lee K M., 1996. Intestinal Parasites Among The Southeast Asian Laborers In Taiwan During 1993-1994, Zhonghua Yi Xue Za Zhi, PMID: 8803301 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 15/11/ 2005 9.Morishita K., 1972. Progres Of Medical Parasitology In Japan, Vol. IV, Meguro Parasitological Museum, Tokyo 10.Morton B G S, Greene W H, Gottlieb N H., 1995. Introduction To Health Education And Health Promotion, Secon Edition, Waveland Press Inc, United States Of Amerika 11.Rioux J A, Ashford R W, Khiami A., 1992. Ecoepidemiology Of Leihmaniases In Syria. 3. Leishmania Major Infection In Psammomys Obesus Provides Clues To Life History Of The Rodent And Possible Control Measures, Ann Parasitol Hum Comp, PMID: 1301732 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 16/09/2006 12.Saathoff E, Olsen A, Sharp B, Kvalsvig J D, Chris C, Appleton, Kleinschmidt I., 2005. Ecologic Covariates Of Hookworm Infection and Re-Infection in Rural Kwazulu-Natal/South Africa: A Geographic Information System-Based Study, Am. J. Trop. Hyg, The American Society of Tropical Medicine and Hygiene, Download 15/11/2005 13.Ye XP, Wu ZX, Sun FH., 1994. The Population Biology And Control Of Necator Americanus In A Village Community In South-Eastern China, Ann Trop Med Parasitol, PMID: 7893178 [PubMed – indexed for MEDLINE], Download 15/11/ 2005