Selamat Datang Di Remanda'S Community

BENTENG PASSO - AMBON

BENTENG PASSO - AMBON
(Foto: Amanda'S)

Jumat, 05 November 2010



Senin, 01/11/2010 16:34 WIB
Gunung Merapi Meletus
Heboh Foto Awan Puncak Merapi Berbentuk Kepala Petruk
foto
Parwito – detikNews



Magelang - Di tengah kegalauan akan bahaya wedhus gembel, para pengungsi digegerkan beredarnya sebuah foto awan di Puncak Gunung Merapi. Bagaimana tidak? Dalam foto yang diambil oleh salah seorang warga Kecamatan Srumbung Magelang itu, awan itu menyerupai wajah Petruk, salah satu punakawan dalam pewayangan Jawa yang berhidung mancung.

Foto tersebut milik Suswanto (40), warga Dusun Anom, Desa Sudimoro, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Dia mengaku mengambil foto tersebut Senin (25/10/2010) pukul 05.00 WIB dari rumahnya.

"Usai salat subuh, saya begitu melihat puncak Merapi kok ada awan bentuknya aneh. Langsung saya abadikan dengan kamera digital," ujar Suswanto.

Suswanto kemudian memperlihatkan foto itu kepada beberapa tetangga desanya seperti di Desa Ngargosuko, Desa Salamsari, Desa Krajan, Desa Jengglis, Desa Kemiren , Desa Sumberrejo dan Desa Kaliurang.

"Beberapa sesepuh dan orang-orang tua desa menyatakan jika sudah terlihat kepala Mbah Petruk atau Nyai petruk yang sudah menagih janjinya maka akan terjadi letusan di puncak Gunung Merapi yang sangat besar," tegas Suswanto.

Sugihartono, tetangga Suswanto, mengatakan warga setempat sangat mempercayai mitos Mbah Petruk atau Nyai Petruk. Mitos itu dipercaya secara turun-temurun.

Mitos itu terkait cerita tentang kekecewaan Raja Majapahit, Brawijaya terhadap Kerajaan Demak dalam kisah Sabdo Palono Genggong. Brawijaya saat itu ingin menyepi di Gunung Lawu namun diusir. Brawijaya akhirnya bersemedi di puncak Merapi.

Saat menyepi di Merapi, Brawijaya bertemu dengan seorang wanita tua yang konon disebut Nyai Petruk atau Mbah Petruk. "Mbah Petruk kemudian mengeluarkan sabda jika Ada pemimpin di sekitar Merapi yang tidak benar dirinya akan menagih janji," ujar Sugihartono.

Sugihartono menjelaskan dalam foto itu kepala Mbah Petruk menghadap ke Selatan. Ini artinya letusan Merapi yang terbesar akan menimpa di Yogjakarta dan sekitarnya.

"Kucir belakang dan hidung tajamnya menghadap ke selatan, Yogjakarta. Maka diperkirakan yang akan mendapat akibat besar adalah kota Yogjakarta dan sekitarnya," tegas Sugihartono.

Mbah Diur (54), sesepuh Dusun Gantan, Desa Ketunggeng, Kecamatan Dukun, Magelang menjelaskan Merapi secara filosifi dan metafisis dikuasai beberapa arwah dari orang yang mumpuni. Salah satunya Nyai Petruk atau Mbah Petruk yang menguasai bagian puncak bersama mahkluk gaib lainnya, Den Mas Anwar, anak dari Pangeran Samber Nyawa penguasa Gunung Lawu.

"Petruk menguasai kawah dan Den Mas Anwar menguasai bagian puncak sampai ke dalamnya," tegas Mbah Diur.

Ada lagi tokoh ghaib lainnya yang diyakini berdiam di Gunung Merapi. Tokoh ghaib itu adalah pangeran Sambang Dalan, penguasa sisi kanan kiri lereng Merapi.

(djo/djo)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Senin, 11 Oktober 2010

ERIHATU SAMASURU KUMPUL BASUDARA

ERIHATU SAMASURU
KUMPUL BASUDARA

Tema:
Bersatu Singsing Lengan Baju, Katong Pulang Bangun Erihatu

BIDANG KAJIAN:
1.Bidang Pendidikan
2.Bidang Ekonomi
3.Bidang Sosial Budaya
4.Bidang Keagamaan (Mental Spiritual)
Mengapa Erihatu Samasuru
Kumpul Basudara eee….

1.Rata-rata Lulusan Anak Erihatu adalah SLTA. Jumlah mereka yang
kuliah di PT masih tidak berimbang dengan angka lulusan SLTA tadi,
kalau tidak mau dikatakan DAPAT DIHITUNG DENGAN JARI, apalagi
Mereka cuman terkonsentrasi pada beberapa bidang ILMU, sehingga
dikhawatirkan kurang memberikan KONTRIBUSI kepada Negeri dan
Jemaat secara menyeluruh.
Anak Erihatu lulusan SD, SLTP, SLTA dengan PRESTASI GEMILANG tetapi kurang beruntung melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan EKONOMI, PERLU DITOPANG…..
Bagaimana Bentuk topangan itu….?
Jangan lihat siapa keluarganya, Mari pulang, katong duduk 1 LESA dan bicarakan itu….

2.Waktu itu, katong KULIAH cuman mengharapkan panen Cengkeh…. Masa itu paling indah walau mesti naik Motor Jhonson 25 PK, tetapi siapapun dia yang sempat menikmati zaman keemasan itu pasti ingin mengulangnya lagi…. Samua bakumpul di Toko Kota Raja kemudian sama-sama pake Mobil ke TIAL atau Tulehu…..
Mungkinkah itu…..?
Masa keemasan dengan seribu ceritera GOYANG POHONG UANG JATUH, bisa katong alami lagi, tetapi tidak selamanya harus bertopang pada cengkeh saja…. Ada POTENSI lain dari BUMI ERIHATU yang dapat dikembangkan…..
Waktu Tata Nany parentah, katong coba mengolah ewang sampe di Paruparuna….tetapi akhirnya tastop juga….
MANGAPA…?
Kata katong pung ana-ana MUDA, Bung eee TALALO JAUH…
YEAH….. AKSES …..

Katong lalu coba ke laut….
Ada yang biking SERO…. Eeeee Untung juga…..
Tapi….. Samua ikut ikutan biking SERO…. Datang Musim TIMUR
samua SERO putus….katong lupa bahwa akses katong di laut
Terbatas cuman 6 BULAN….
Kalo bagitu katong musti biking apa…. Sebab hidup anak-anak ERIHATU
MESTI tetap berlanjut…….
Basudara…..
Mari katong pulang, duduk 1 LESA, minum dari Tampurung yang satu….
Lalo katong pikir akang…..

3.Su lama beta seng liat lai orang DUDUK MAKAN di Meja PUTIH PANJANG….. Oh ia itu Waktu MAKAN MALAM kalo sudah selesai
Kerja MASOHI… Bangun Rumah, Biking Pagar Kabong, Naik Cengkeh…
Nampaknya generasi skarang su alergi…. Katanya seng praktis….
Segala sesuatu sudah dihitung dengan Uang…. Kekerabatan sudah mulai renggang…. Sebab uang adalah RAJA….
Anak-anak ABG Erihatu sudah mulai pake istilah EMANG ELO GUE PIKIRIN…?
Banyak nilai Budaya Erihatu mulai terkikis dimakan Usia….. Sebab arus modernisasi ……
Nilai-nilai Kebersamaan mulai dilupakan, setiap orang mulai berlomba bahkan manggurebe maju sandiri-sandiri…. IBARAT KATANG…. Akhirnya seng ada yang maju sebab su jatuh ditarik ka bawah… Katang kalo kumpul akang dalam satu loyang…. Biar banyak lai tapi seng ada saekor pun yang dapat kaluar dari loyang…..

Budaya Tanam Sagu dan Pukul Sagu juga mulai dilupakan orang….padahal Katong Pung Orang Tete Nene Moyang pernah pigi BABALU sampai di pulau seram biar pake Parau Layar…. Dayung akang rame-rame….
Prof. Louhenapessy dari UNPATTI dengan beberapa teman yang didukung oleh PEMDA Maluku… sementara memetakan sentra SAGU di Maluku….. Sebab apa ? Karena Sagu itu tanaman Budaya orang Maluku.

BASUDARA eee , mari katong pulang lalo minum aer Amanukui, aer Wairiang, Aer Leserai…. Bicara dari hati ke hati dengan adik, dengan kakak, Bapa, Mama, Ua, Wate, Om, Mui, par tata katong pung hidop bae-bae… Lalu minta Tete Manis Sertai katong….

Itu baru Internal…..
Dalam hubungan Eksternal….. BUDAYA PELA DENG GANDONG
Mesti masyarakatkan kembali…….
Budaya itu juga sementara terdegradasi…..
Jarang lagi dengar sebutan WATE deng MUI atau OM PE dan USI PE..
Kecuali kalo salah satu saling mengunjungi NEGERI adat Pela deng Gandong.
Melalui Peringatan 1 ABAD Injil Masuk Negeri Hatu…. Pela Hatu sudah
Mulai dengan entry point Kumpul Sudara 4 Negerinya.

4.Beta masih ingat tulisan di salah satu ruang kelas SD Negeri Wassu, beta ingat itu sampe skarang…..
Takut Akan Tuhan Adalah Permulaan Segala Hikmat…
Moga-moga tulisan itu masih ada sampe skarang….
Trima kasih pak Riri… tulisan itu menjadi mengilhami beta pung perjuangan sampe skarang….
Beta juga masih ingat, katong pung bapak deng ibu pengasuh Tunas deng Skolah Minggu selalu bilang… Heee ana ana segala sesuatu itu datang dar antua di atas... Jadi Taku Tuhan sadiki…..
Suatu waktu… maeng suteng-suteng cengkeh di skolah…
Kalah… ada yang ajak lalo pigi pata cengkeh gagang di pohon cengkeh sekitar skolah… jaga-jaga pertama saja… eee Hari Minggu bagini seng tahu sapa kas tau par Bapak Ketua Pengasuh…. Dapa randang tangan di air panas …. Tobat…. He he padahal ambil di pung pohong sandiri.

Pola-pola pembinaan seperti begini katanya sudah mesti ditingalkan dalam dunia skarang….
Kalo ada Bapak deng Ibu pengasuh yang bertindak seperti itu lai skarang, pasti dapa pilang kapa ee….
Ada benarnya juga, sebab sekarang sudah di alam demokrasi…. Sampe-sampe karna talalo demokrasi jadi KEBLABLASAN.
Basudara eee… mari katong pulang, katong dudu sama tinggi, berdiri sama rendah…. Dalam barisan anak-anak tuhan seperti lukisan pada katong pung Tembok di blakang Mimbar tuh….

Demikian sedikit pandangan yang akan menjadi Latar Belakang terlaksananya Erihatu Samasuru Kumpul Basudara…..


Sasaran Kegiatan:
1.Semua anak Erihatu Samasuru yang ada di rantau di seluruh DUNIA
2.Warga masyarakat dan Jemat Wassu, di negeri Wassu
Tujuan:
1.Menumbuhkan rasa kebersamaan dan cinta terhadap Negeri dan Jemaat.
2.Berpartisipasi Membangun Negeri dan Jemaat Wassu, dalam bidang:
Pedidikan, Ekonomi, Sosial Budaya, Keagamaan (mental spiritual).

PROGRAM ATAU KEGIATAN:
1.Penunjang: tiap Keluarga perantau diharapkan terlebih dahulu dapat mempersiapkan/
menata tempat berkumpul keluarganya (Rumah Tua).
2.Seminar: Membangun Erihatu Samasuru, dengan menghadirkan pembicara yang ahli dalam
bidangnya (Akademisi, praktisi,Birokrat, dll)
3.Menyusun buku; Membangun Erihatu Samasuru
4.Pernytaan Ikrar Anak Erihatu
5.Perayaan Natal Bersama

Waktu Pelaksanaan:
Sepanjang Tahun 2011, dan akan berakhir Pada Bulan Desember .

Catatan: Waktu kegiatan disesuaikan

Demikian Rancangan Kegiatan ini di susun, untuk menjadi
PEGANGAN bersama.

Jangan Ditanyakan apa yang Negeri dan Jemaat mu Brikan Kepadamu,
Tetapi tanyakanlah… apa yang kamu Brikan kepada Negeri dan Jemaatmu.
……DOA ANAK NEGERI DAN JEMAAT ERIHATU…..sudah lebih dari segalanya….
Katong tidak memiliki kepentingan apa-apa….
sebagai anak Erihatu Samasuru Katong hanya merasa terpanggil untuk mendorong
Pembangunan Erihatu Samasuru ke depan dalam berbagai bidang sejajar dengan
Pembangunan di negeri-negeri lain di tanah Lease ini.
Akhirnya, katong sangat mengharapkan komentar dari Basudara Yang ingin memberikan komentarnya…. Komentar diharapkan dapat disertai Solusinya.
Komentarnya dapat melalui email kami or Blog Remanda’s Community……
Terima kasih…. Tuhan Yesus Beserta Kita, Amin.

Salam hormat,

Nus Salakory

Jumat, 23 Juli 2010

INDEKS PERTUMBUHAN TELUR&LARVA GH (Kultur In vitro)

Perbedaan Pertumbuhan telur dan Larva Geohelminths di 7 Jenis Tanah Perdesaan Pulau Ambon (Hasil Kultur Invitro)
(Oleh: M. Salakory.M.Kes* Program Doktor Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UGM)


Telah dilakukan penelitian eksperimen di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada untuk kultur invitro. Dalam rencana awal penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Pattimura, akan tetapi tempat penelitian dipindahkan ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pemindahan tempat penelitian dikarenakan kondisi listrik di Kota Ambon mengalami pemadaman bergilir dengan interval yang tidak dapat diprediksi, sehingga dikhawatirkan hasil penelitian akan mengalami bias bahkan mungkin gagal. Pada pelaksanaan kultur invitro di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada juga sempat dipengaruhi oleh faktor pengganggu. Sampel tinja yang mengandung telur
Cacing kait, terlebih dahulu menetas menjadi larva Rabditiform sehingga fase pertama terlewatkan dalam pengamatan. Kultur tetap dilanjutkan, tetapi dilakukan pengulangan khusus untuk jenis telur Cacing kait. Kultur kemudian dilakukan pada Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Pattimura tanggal 16 Oktober – 01 Nopember 2009, sekaligus sebagai replikasi.



Gambar.27.Distribusi Kelas Risiko Populasi Telur dan Larva Geohelminths di Tanah, Berdasarkan Satuan Lahan

Kultur invitro yang dilakukan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh suatu formula tentang dinamika perkembangan telur fertil menjadi telur infektif dan larva untuk jenis Cacing kait. Perkembangan telur Geohelminths sesuai hasil kultur invitro dapat dilihat pada tampilan gambar 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35.


Dari hasil kultur tersebut, terungkap bahwa ada resistensi telur Geohelminths. Resistensi tersebut berupa suatu kemampuan untuk bertahan atau viabilitas telur-telur yang diperlihatkan selama eksperimental pada suatu agen dengan kondisi-kondisi tetap. Menurut Ogata (1923b), dapat dipergunakan 3 kriteria bagi telur-telur yang mati ataupun yang hidup yaitu; kriteria melalui metode kultur, kriteria morfologis, dan kriteria dengan penodaan. Dalam penelitian ini digunakan kriteria melalui metode kultur.

Disebutkan oleh Inatomi dalam Morishita (1979), bahwa kriteria dengan metode kultur memiliki reliabilitas yang tinggi. Dalam metode ini telur A. lumbricoides ditempatkan dalam agen tanah dengan kondisi jenis tanah yang berbeda dan dalam keadaan kering, lembab, basah, dan pada suhu 25oC (suhu kamar). Setelah suatu periode tertentu perkembangan telur-telur Geohelminths tersebut diperiksa untuk melihat perkembangan atau perubahan morfologi telur dan larva pada tiap tahap perkembangan dalam media dish.
Fushumi dalam Morishita (1979), yang menyelidiki kembali kerja Brown, mengemukakan suatu formula tentang indeks perkembangan dari telur A. lumbricoides. Dibaginya atas enam bagian berdasarkan tahap perkembangan mereka yaitu; tahap satu sel, tahap morula awal, tahap morula akhir, tahap tadpole, tahap embrio mortil dan telur yang terdegenerasi, dimana tiap tahap tersebut secara komparatif diberi nilai 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 yang disebut sebagai angka indeks. Persentase tiap tahap dalam suatu populasi telur dikalikan dengan tiap-tiap angka indeks yang berkaitan. Jumlah totalnya digunakan sebagai nilai indeks total dari perkembangan dalam populasi telur pada saat pengujian. Formula untuk menghitung indeks total adalah:
S= a.0+b.1+c.2+d.3+e.4+f.0
Keterangan: S = Indeks Total
a = tahap satu sel
b = tahap morula awal
c = tahap morula akhir
d = tahap tapdole
e = tahap embrio mortil
f = degradasi telur (Fushumi dalam Morishita.1979)

Ogata (1923 b), mengemukakan bahwa perubahan morfologi yang kelihatan dalam telur yang mati adalah; 1).vakuolasi dalam sitoplasma sel-sel telur (terutama berkaitan dengan degenerasi lemak), 2) sitolisis, 3) penyusutan dari sel telur, 4) kerusakan pada bagian permukaan dari sel telur atau jubah protein. Ia juga mencatat okurensi telur-telur mati tanpa perubahan morfologis yang bisa dicatat.
Bentuk abnormal yang kelihatan dalam telur ini secara morfologis diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Perubahan dalam tahap satu sel adalah; granulasi, penyusutan, mallokasi, pembentukan gelembung yang kecil atau besar, hyalinasi sitoplasmik, deformasi dan disintegrasi. Tiga perubahan pertama yang terjadi menandakan telur mengalami kerusakan parah. 2) Perubahan dalam tahap perkembangan, secara garis besar terbagi dalam dua bagian yaitu; a) embrio yang terpisah secara tidak normal yang merupakan karakteristik dari kehadiran blasmer-blasmer dengan ukuran tak seimbang di tahap awal dan embrio yang pecah di tahap akhir, dan b) bentuk yang beragam sebagaimana terlihat dalam tahap satu sel, yang kelihatan dalam tiap blasmer atau dalam embrio.

Dalam penelitian pendahuluan yang pernah dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tahun 2005, pengamatan terhadap telur Cacing kait yang ditanam di tanah sesuai jenis tanah dan dikondisikan dalam keadaan kering, basah, lembab, serta disimpan dalam inkubator dengan suhu kamar (25oC), memberikan hasil sbb; pada pengamatan awal sebelum ditanam terlihat telur dengan 4 sel, 6 sel dan 8 sel dengan bentuk lonjong dan dinding tipis bening satu lapis. Setelah ditanam pada cawan petri, di hari pertama pengamatan terlihat sebagian besar telur mengalami perubahan ke stadium morula (menunjukkan bentuk larva). Hari kedua pengamatan terlihat perubahan ke arah bentuk larva makin jelas. Hari ke tiga, tidak ditemukan lagi perubahan ke arah pertumbuhan larva bahkan terlihat fisik telur cenderung mengerut dan inti di dalamnya berkerut atau mengecil dari hari ke dua. Setelah diperiksa kondisi fisik media tanah dalam cawan petri terlihat tanah dalam kondisi kering walau keaadaan suhu tetap. Atas dasar itu, maka kemudian dari 8 cawan petri yang ada, 3 cawan petri kemudian diberikan tambahan air sedangkan sisanya tidak. Pemeriksaan hari keempat, terlihat perubahan ke arah perkembangan inti telur yang berasal dari cawan petri yang diberikan tambahan air, sedangkan pada cawan petri yang tidak diberikan tambahan air sudah tidak ditemukan lagi telur Cacing kait. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa telur Cacing kait akan cepat matang dan berubah menjadi larva pada kondisi tanah yang basah atau lembab. Jadi selanjutnya, apabila suasana atau kondisi ini terpenuhi untuk proses pematangan telur-telur tsb, maka dapat dikatakan bahwa daerah tersebut merupakan daerah endemis infeksi cacing yang penularannya melalui tanah.
Hasil penelitian eksperimental melalui kultur Invitro, dimaksudkan untuk memperoleh suatu formula tentang dinamika perkembangan telur fertil menjadi telur infektif dan larva untuk jenis Cacing kait, memberikan hasil sebagaimana tergambar pada tabel 5 bagian lampiran. Indeks dan arah perkembangannya dapat dilihat pada tabel 7.

Dari tabel 7, terlihat bahwa pada media dish dengan jenis tanah Aluvial yang dalam kondisi kering A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3). Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva (tahap 4) Rabditiform maupun Filariform.
Jenis tanah Aluvial yang dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform maupun Filariform (tahap 4).

Tabel. 7
Deskripsi Pertumbuhan Telur dan Larva Geohelminths Sesuai Media Tanah
No Jenis Media
Dish TAHAP PERK. A. lumbricoides TAHAP. PERK. T. trichiura TAHAP. PERK. Cacing kait
0 1 2 3 4 TI A
P 0 1 2 3 4 TI A
P 0 1 2 3 4 TI A
P
- Hw. Tahap awal 4 sel
1 ALUV.K 6 3 8 10 9 85 + - 3 12 7 14 104 -+ - 1 2 3 7 42 ++
2 ALUV.B - 3 6 16 11 107 ++ - 3 4 18 15 113 ++ - 1 2 3 7 42 ++
3 ALUV.L - 1 8 13 14 112 ++ - 3 6 12 15 111 ++ - 1 2 3 7 42 ++
4 BRUN.K 21 6 7 3 - 26 -- 21 6 7 2 - 26 -- - 1 4 4 2 29 +
5 BRUN.B 6 15 9 6 87 -+ 6 9 13 8 - 59 - - 1 4 2 4 31 -+
6 BRUN.L - 3 12 13 8 98 + 17 5 6 8 - 41 -- - 1 4 2 4 31 -+
7 GLEI.K - 3 12 10 11 101 ++ 23 5 6 2 - 23 -- - 1 6 6 4 47 -+
8 GLEI.B 5 10 13 8 96 + 2 7 15 12 - 73 - - 1 6 8 2 45 -+
9 GLEI.L 2 5 8 21 - 84 +- - 7 14 4 11 91 -+ - 1 8 6 4 51 -+
10 KAMB.K 27 1 8 - - 17 -- 21 11 4 - - 19 -- - 1 4 2 8 47 ++
11 KAMB.B - 1 8 25 2 100 +- 36 - - - - 0 -- - 1 2 3 7 42 ++
12 KAMB.L - 1 8 27 - 98 +- 36 - - - - 0 -- 13 1 8 14 - 59 --
13 LITOS.K 27 1 8 - - 17 -- 29 6 1 - - 8 -- 33 1 2 - - 5 --
14 LITOS.B - 5 6 19 6 98 +- 15 13 6 2 - 31 -- - 1 6 2 4 27 -+
15 LITOS.L - 5 6 21 4 96 +- 6 13 8 9 - 56 - - 1 10 14 11 83 ++
16 PDSOL.K 33 3 - - - 3 -- 17 7 6 6 - 37 - 27 3 4 2 - 17 --
17 PDSOL.B 33 3 - - - 3 -- - 9 6 15 6 90 +- 23 3 8 2 - 25 --
18 PDSOL.L 33 3 - - - 3 -- 9 6 13 8 92 + 29 3 3 1 - 12 --
19 RENS.K - 5 4 12 15 109 + 21 5 8 2 - 27 -- 31 1 4 - - 9 --
20 RENS.B - 5 6 10 15 107 + 17 9 4 6 - 35 -- 23 1 2 10 - 35 --
21 RENS.L 5 6 14 11 103 + 7 10 11 8 92 + 23 1 2 10 - 35 --



Sumber: Rekap Rata-rata hasil kultur Invitro (2 kali pelaksanaan), Tahun 2009

Keterangan:
1).Waktu Pengamatan A. lumbricoides, T. trichiura : Max = 36 kali
2).Waktu Pengamatan cacing kait : Max = 16 kali
++ Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih cepat dan mencapai tahap embrio dalam kurun waktu lebih cepat
+ Pertumbuhan Normal dan berlangsung dalam setiap tahap dengan kurun waktu yang relatif sama (hampir tidak ada perbedaan waktu yang besar)
+-Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih cepat, kemudian mengalami pengunduran perkembangan pada tahap tahap kemudian (membutuhkan waktu lama)
-- Pertumbuhan berlangsung pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, terjadi degradasi struktur telur
- Pertumbuhan dalam setiap tahap berlangsung agak lama dan masih berada di bawah pertumbuhan normal
-+Pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (membutuhkan waktu sedikit untuk mencapai tahap berikutnya)
TI = Total Indeks
AP= Arah perkembangan


Jenis tanah Aluvial yang dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform maupun Filariform (tahap 4).
Jenis tanah Aluvial yang dalam kondisi lembab A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4) bahkan kemudian bertahan dalam kondisi stabil pada fase tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi cukup cepat mencapai tahap larva (tahap 4). Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), dan kemudian juga lebih cepat mencapai tahap larva (tahap 4) Rabditiform maupun Filariform.
Pada media dish dengan jenis tanah Brunisem yang dalam kondisi kering A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling lama pada fase morula awal (tahap 2) dan lebih cepat pada fase morula akhir (tahap 3), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke 18. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 2 sel (tahap 2) cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke 18. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6-8 sel (tahap 1), mengalami pertumbuhan normal pada fase morula (tahap 2) dan larva Rabditiform (tahap 3) dan mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 11. Jenis tanah Brunisem yang dalam kondisi basah A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase morula awal (tahap 2), tetapi kemudian lebih cepat mengalami tahap embrio (tahap 4). Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan yang paling lama berada pada fase 2 sel (tahap 2), kemudian mengalami degradasi setelah fase pembelahan lanjut (tahap 3) setelah hari ke-39. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6 - 8 sel (tahap 1), kemudian mengalami pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2), dan lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform (tahap 3) maupun Filariform (tahap 4). Jenis tanah Brunisem yang dalam kondisi lembab A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan pertumbuhan normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3) kemudian mencapai fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-29. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan rata-rata lambat pada setiap fase, kemudian mengalami degradasi setelah mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3) di hari ke-22. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan paling cepat pada fase 6-8 sel (tahap 1), kemudian mengalami pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2), dan lebih cepat mencapai tahap larva Rabditiform (tahap 3) maupun Filariform (tahap 4).
Pada media dish dengan jenis tanah Gleisol yang dalam kondisi kering, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan lebih normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3) dan kemudian mengalami fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-33 dan dan bahkan bertahan pada media dish tersebut. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 1 sel (tahap 1) mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3), tetapi kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-15. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 17. Jenis tanah Gleisol yang dalam kondisi basah, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan mengalami pertumbuhan normal pada fase morula awal (tahap 2) dan morula akhir (tahap 3), kemudian mengalami fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-39. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan paling lama pada fase 2 sel (tahap 2), mencapai fase pembelahan lanjut (tahap 3) dan bertahan cukup lama pada fase tersebut, kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-45. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke 20. Jenis tanah Gleisol yang dalam kondisi lembab, A. lumbricoides mengalami pertumbuhan paling cepat pada fase 1 sel (tahap 1) dan mengalami pertumbuhan lambat pada fase morula akhir (tahap 3), kemudian mengalami degradasi setelah hari ke-44. Telur T. trichiura mengalami pertumbuhan lambat pada fase 2 sel (tahap 2), kemudian mengalami pertumbuhan cukup cepat pada fase pembelahan lanjut (tahap 3), dan pada akhirnya masuk ke fase embrio (tahap 4) setelah hari ke-33 dan bertahan cukup lama pada fase tersebut. Telur Cacing kait mengalami masa pertumbuhan lama pada fase morula (tahap 2) dan fase larva Rabditiform (tahap 3), kemudian mencapai fase Filariform (tahap 4) setelah hari ke-20.
Dari tabel 6. terlihat bahwa; A. lumbricoides mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap embrio (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Aluvial lembab dengan persentase TI (Indeks Perkembangan Maksimum/ IPT x 100) sebesar 77.78%, Aluvial basah 74/30%, dan Gleisol kering 70.14%. Mengalami pertumbuhan normal (+), pada Rensina kering 75.69%, Rensina basah 74, 30%, Rensina lembab 71.53%, Brunisem lembab 68.05%, Aluvial kering 59.02%, dan Gleisol basah 66.67%.
A. lumbricoides mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, terjadi degradasi struktur telur (-- ), pada media tanah Brunisem kering 18.05%, Kambisol kering dan Litosol kering 11.80%, Podsolik kering, Podsolik basah dan Podsolik lembab 2.08%.
A. lumbricoides mengalami pertumbuhan di awal-awal normal kemudian melambat (+-), pada media tanah Kambisol basah 69.44%, Kambisol lembab dan Litosol basah 68.05%, Litosol lembab 66.66%. Mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+), pada media tanah Brunisem basah 60.42%.
Hasil yang dicapai dalam proses pertumbuhan telur A. lumbricoides ini sejalan dengan Bundy dan Cooper (1989) yang menemukan bahwa Telur A. lumbricoides, tahan terhadap suhu yang ekstrim di banding Trichuris trichiura, dan Cacing kait (Bundy dan Cooper, 1989), tetapi hasil penelitian justru T. trichiura yang lebih bertahan dalam kondisi kering dibandingkan A. lumbricoides.
Distribusi pertumbuhan telur A. lumbricoides (indeks pertumbuhan) pada satuan lahan Pulau Ambon dapat dilihat pada gambar 36 (Lampiran).
T. trichiura, mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap embrio (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Aluvial basah 78.47%, dan Aluvial lembab 70.08%. Mengalami pertumbuhan normal pada Podsolik lembab dan Rensina lembab 63.89%.
T. trichiura, mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari
keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu relatif lama, serta terjadi degradasi struktur telur (--), pada media tanah Brunisem lembab 28.47%, Litosol basah, Rensina basah 24.30%, Brunisem kering 18.05%, Rensina kering 18.75%, Gleisol kering 15.97, Kambisol kering 13.19%, Litosol kering 5.55%, Kambisol basah, Kambisol lembab 0%.
T. trichiura, mengalami pertumbuhan dalam setiap tahap berlangsung agak lama berada di bawah pertumbuhan normal (-), pada media tanah Gleisol basah 50.69%, Brunisem basah 40.97%, Litosol lembab 38.89%, Podsolik kering 25.69%.
T. trichiura. mengalami pertumbuhan di awal-awal normal kemudian melambat (+-), pada media tanah Podsolik basah 62.5%. Mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+), pada media tanah Gleisol lembab 63.19%.
Distribusi pertumbuhan telur T. trichiura (indeks pertumbuhan) pada satuan lahan Pulau Ambon dapat dilihat pada gambar 37 (Lampiran).
Cacing kait, mengalami pertumbuhan untuk mencapai tahap larva Rabditiform maupun filariform (tahap 4) lebih cepat (++) pada media tanah Litosol lembab 57.64%, Kambisol kering 32.64%, Aluvial kering, Aluvial basah, Aluvial lembab, Kambisol basah, 29.17%. Mengalami pertumbuhan normal (+) pada media tanah 20.14%.
Cacing kait, mengalami pertumbuhan pada tahap-tahap awal lebih lama dari keadaan normal, tidak mencapai tahap embrio, membutuhkan waktu yang relatif lama, serta terjadi degradasi struktur telur (--), pada media tanah Kambisol lembab 40.97%, Rensina basah, Rensina lembab 24.30%, Podsolik basah 17.36%, Podsolik kering 11.80%, Podsolik lembab 8.33%, Rensina kering 6.25%, Litosol kering 3.47%.
Cacing kait. mengalami pertumbuhan pada tahap tahap awal lebih lama, kemudian normal bahkan agak cepat pada tahap tahap kemudian (-+), pada media tanah Gleisol lembab 35.42%, Gleisol kering 32.64%, Gleisol basah 31.25%, Brunisem basah, Brunisem lembab 21.53%, dan Litosol basah 18.75%.
Pertumbuhan telur dan larva Cacing kait, ditemukan berhenti berkembang pada suhu 41oC (Undosi dan Atata, 1987; Smith dan Schad, 1989, dalam Brooker, 2006).
Distribusi pertumbuhan telur dan larva Cacing kait (indeks pertumbuhan) pada satuan lahan Pulau Ambon dapat dilihat pada gambar 38 (Lampiran).
Dari tabel 6, disusun 63 formula Indeks Pertumbuhan untuk tiap jenis telur dan larva Geohelminths menurut media dish nya sebagai berikut.

1 ALUVIAL KERING:
Tot.Idx.A. lumbricoides = 6.0+3.1+8.2+10.3+9.4 10 BRUNISEM KERING:
Tot.Idx.A. lumbricoides = 21.0+6.1+7.2+3.3+0.4
2 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+3.1+12.2+7.3+14.4 11 Tot.Idx.T. trichiura =
21.0+6.1+7.2+2.3+0.4
3 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+2.2+3.3+7.4 12 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+4.2+4.3+2.4
4 ALUVIAL BASAH:
Tot.Idx.A. lumbricoides = 0.0+3.1+6.2+16.3+11.4 13 BRUNISEM BASAH:
Tot.Idx.A. lumbricoides = 0.0+6.1+15.2+9.3+6.4
5 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+3.1+4.2+18.3+15.4 14 Tot.Idx.T. trichiura =
6.0+9.1+13.2+8.3+0.4

6
Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+2.2+3.3+7.4
15
Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+4.2+2.3+4.4
7 ALUVIAL LEMBAB:
Tot.Idx.A. lumbricoides = 0.0+1.1+8.2+13.3+14.4 16 BRUNISEM LEMBAB:
Tot.Idx.A. lumbricoides =0.0+3.1+12.2+13.3+8.4
8 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+3.1+6.2+12.3+15.4 17 Tot.Idx.T. trichiura =
17.0+5.1+6.2+8.3+0.4
9 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+2.2+3.3+7.4 18 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+4.2+2.3+4.4


19 GLEISOL KERING:
Tot.Idx.A. lumbricoides =
0.0+3.1+12.2+10.3+11.4 28 KAMBISOL KERING:
Tot.Idx.
A.lumbricoides =
27.0+1.1+8.2+0.3+0.4
20 Tot.Idx.T. trichiura =
23.0+5.1+6.2+2.3+0.4 29 Tot.Idx.T. trichiura =
21.0+11.1+4.3+0.3+0.4
21 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+6.2+6.3=6.4 30 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+4.2+2.3+8.4
22 GLEISOL BASAH:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+10.2+13.3+8.4 31 KAMBISOL BASAH:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+1.1+8.2+25.3+2.4
23 Tot.Idx.T. trichiura =
2.0+7.1+15.2+12.3+0.4 32 Tot.Idx.T. trichiura =
36.0+0.1+0.2+0.3+0.4
24 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+6.2+8.3+2.4 33 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+2.2+3.3+7.4
25 GLEISOL LEMBAB:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
2.0+5.1+8.2+21.3+0.4 34 KAMBISOL LEMBAB:
Tot.Idx.A. lumbricoides =
0.0+1.1+8.2+27.3+0.4

26 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+7.1+14.2+4.3+11.4 35 Tot.Idx.T. trichiura =
36.0+0.1+0.2+0.3+0.4
27 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+8.2+6.3+4.4 36 Tot.Idx.Cacing kait =
13.0+1.1+8.2+14.3+0.4

37 LITOSOL KERING:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
27.0+1.1+8.2+0.3+0.4 46 PODSOLIK KERING:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
33.0+3.1+0.2+0.3+0.4
38 Tot.Idx.T. trichiura =
29.0+6.1+1.2+0.3+0.4 47 Tot.Idx.T. trichiura =
17.0+7.1+6.2+6.3+0.4
39 Tot.Idx.Cacing kait =
33.0+1.1+2.2+0.3+0.4 48 Tot.Idx.Cacing kait =
27.0+3.1+4.2+2.3+0.4
40 LITOSOL BASAH:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+6.2+19.3+6.4 49 PODSOLIK BASAH:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
33.0+3.1+0.2+0.3+0.4
41 Tot.Idx.T. trichiura =
15.0+13.1+6.2+2.3+0.4 50 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+9.1+6.2+15.3+6.4
42 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+6.2+2.3+4.4 51 Tot.Idx.Cacing kait =
23.0+3.1+8.2+2.3+0.4

43
LITOSOL LEMBAB:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+6.2+21.3+4.4
52
PODSOLIK LEMBAB:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
33.0+3.1+0.2+0.3+0.4
44 Tot.Idx.T. trichiura =
6.0+13.1+8.2+9.3+0.4 53 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+9.1+6.2+13.3+8.4
45 Tot.Idx.Cacing kait =
0.0+1.1+10.2+14.3+11.4 54 Tot.Idx.Cacing kait =
29.0+3.1+3.2+1.3+0.4

55 RENSINA KERING:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+4.2+12.3+15.4 61 RENSINA LEMBAB:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+6.2+14.3+11.4
56 Tot.Idx.T. trichiura =
21.0+5.1+8.2+2.3+0.4 62 Tot.Idx.T. trichiura =
0.0+7.1+10.2+11.3+8.4

57
Tot.Idx.Cacing kait =
31.0+1.1+4.2+0.3+0.4
63
Tot.Idx.Cacing kait =
23.0+1.1+2.2+10.3+0.4
58 RENSINA BASAH:
Tot.Idx.
A. lumbricoides =
0.0+5.1+6.2+10.3+15.4
59 Tot.Idx.T. trichiura =
17.0+9.1+4.2+6.3+0.4
60 Tot.Idx.Cacing kait =
23.0+1.1+2.2+10.3+0.4

Catatan: Bilangan pertama menunjukkan jumlah waktu yang dicapai dalam fase, bilangan kedua adalah bobot nilai tiap fase.


Hasil pengamatan kemudian dibandingkan untuk melihat apakah terdapat perbedaan signifikan indeks pertumbuhan telur dan larva Geohelminths yang dikultur menurut 7 jenis tanah. Alat uji statistik yang dipergunakan adalah Anova satu arah (one way anova).
Dari bagian pertama print-out anova (lampiran hasil analisis statistik), terlihat ringkasan statistik dari ketiga populasi. Deskripsi dari hasil kultur pada pemeriksaan ke-1 adalah; rata-rata Indeks Pertumbuhan (IP) A. lumbricoides sebesar 1.00 , minimum 1 dan maksimum 1, rata-rata Indeks Pertumbuhan dengan α = 0.05 ada pada range 1.00 – 1.00. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 0.90, minumm 0 dan maksimum 1, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.77 – 1.04. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.95, minum 0 dan maksimum 1, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.85 – 1.05.
Pada pemeriksaan ke-2, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.24, minimum 1 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.04 – 1.44. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 0.90, minimum 0 dan maksimum 1, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.77 – 1.04. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.52 – 2.01.
Pada pemeriksaan ke-3, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.24, minimum 1 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.04 – 1.44. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 0.90, minimum 0 dan maksimum 1, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.77 – 1.04. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.52 – 2.01.
Pada pemeriksaan hari ke-4, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.29, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.96 – 1.61. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.05, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.82 – 1.27. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.72 – 2.47.
Pada pemeriksaan ke-5, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.29, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.96 – 1.61. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.05, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.82 – 1.27. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.72 – 2.47.
Pada pemeriksaan ke-6, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.62,
minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.28 – 1.96.
indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.19, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.92 – 1.46. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.14, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.68 – 2.60.
Pada pemeriksaan ke-7, terlihat bahwa; Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.39 – 2.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.29, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.99 – 1.58. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.38, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.81 – 2.95.
Pada pemeriksaan ke-8, terlihat bahwa; Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.39 – 2.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.43, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.06 – 1.80. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.52, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.87 – 3.18.
Pada pemeriksaan ke-9, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 2, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.39 – 2.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.43, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.06 – 1.80. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.52, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.87 – 3.18.
Pada pemeriksaan ke-10, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.27 – 2.26. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.67, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.28 – 2.06. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.84 – 3.30.
Pada pemeriksaan ke-11, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.27 – 2.26. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.67, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.28 – 2.06. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.84 – 3.30.
Pada pemeriksaan ke-12, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.00, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.44 – 2.26. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.81, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.39 – 2.23. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.32, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.51 – 3.12.
Pada pemeriksaan ke-13, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.00, minimu 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.44 – 2.56. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.81, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.39 – 2.23. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 2.32, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.51 – 3.12.
Pada pemeriksaan ke-14, Indeks Pertumbuhan .A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.52 – 2.67. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.95, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.46 – 2.44. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.38 – 2.28.
Pada pemeriksaan ke-15, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.52 – 2.67. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.95, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.46 – 2.44. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.38 – 2.28.
Pada pemeriksaan ke-16, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.46 – 2.44. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.20, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.21 – 2.19.
Pada pemeriksaan ke-17, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.12 – 2.31. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.20, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.21 – 2.19.
Pada pemeriksaan ke-18, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.15 – 2.37. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.77, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.13 – 1.66.
Pada pemeriksaan ke-19, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.76, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.15 – 2.37. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.77, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.13 – 1.66.
Pada pemeriksaan ke-20, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.38, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.75 – 2.02. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.50, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.24 – 1.24.
Pada pemeriksaan ke-21, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.10, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α =0.05 ada pada range 1.47 – 2.72. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.38, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.75 – 2.02. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 1.46, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.24 – 1.24.
Pada pemeriksaan ke-22, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.29, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.59 – 2.96. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.43, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.70 – 2.16. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.50, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.24 – 1.24.
Pada pemeriksaan ke-23, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.62 – 3.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.79 – 2.35. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.50, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.24 – 1.24.
Pada pemeriksaan ke-24, Indeks A. lumbricoides sebesar 2.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.62 – 3.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.79 – 2.35. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.25, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.30 – 0.80.
Pada pemeriksaan ke-25, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.62 – 3.04. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.79 – 2.35. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.25, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.30 – 0.80.
Pada pemeriksaan ke-26, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.72 – 3.23. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.62, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.81 - 2.43. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.33, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.40 – 1.07.
Pada pemeriksaan ke-27, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata - rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.72 – 3.23. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.62, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.81 - 2.43. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.33, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.40 – 1.07.
Pada pemeriksaan ke-28, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.72 – 3.23. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.62, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.81 - 2.43. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.33, minimum 0 dan maksimum 3, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.40 – 1.07.
Pada pemeriksaan hari ke-29, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.79 – 3.35. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.86 - 2.57. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.40 – 1.07.
Pada pemeriksaan ke-30, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.57, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.79 – 3.35. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.71, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.86 - 2.57. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range -0.40 – 1.07.
Pada pemeriksaan ke-31, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.64 – 3.31. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.49 - 2.36. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Pada pemeriksaan ke-32, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.64 – 3.31. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.59 - 2.36. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Pada pemeriksaan ke-33, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.52, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.68 – 3.37. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.59 - 2.36. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Pada pemeriksaan ke-34, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.52, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.68 – 3.37. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.48, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.59 - 2.36. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Pada pemeriksaan ke-35, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.43, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.53 – 3.32. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.45 - 2.21. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Pada pemeriksaan ke-36, Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 2.43, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 1.53 – 3.32. Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 1.33, minimum 0 dan maksimum 4, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.45 - 2.21. Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 0.00, minimum 0 dan maksimum 0, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 0.00 – 0.00.
Total Indeks Pertumbuhan A. lumbricoides sebesar 73.81, minimum 3 dan maksimum 112, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 55.01 – 92.61. Total Indeks Pertumbuhan T. trichiura sebesar 53.71, minimum 0 dan maksimum 113, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 33.63 – 70.80. Total Indeks Pertumbuhan Cacing kait sebesar 34.52, minimum 0 dan maksimum 83, rata-rata dengan α = 0.05 ada pada range 25.66 – 49.39.
Bagian kedua adalah test of homogeneity of variances yang bertujuan untuk menguji berlaku tidaknya asumsi untuk ANOVA, yaitu apakah tiga populasi mempunyai varians yang sama.
Terlihat bahwa Levene Test hitung pemeriksaan pertama (P1) adalah 4.764 dengan nilai probabilitas (p) 0.000. Oleh karena p; 0.000 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan tiga varians populasi adalah identik atau ketiga varians populasi tidak sama, tetapi setelah ditanam selama empat hari (P4) adalah 2.770 dengan nilai probabilitas (p) 0.071. Oleh karena p; 0.071 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan ketiga varians populasi adalah identik di terima atau ketiga varians populasi sama. Angka ini dipergunakan dengan asumsi bahwa kondisi sampel pada awal kultur memang tidak sama tetapi setelah hari keempat maka kondisi sampel akan berada pada keadaan yang hampir sama sebab dianggap sebagai awal penyesuaian dengan kondisi lingkungan dalam cawan petri. Dengan demikian asumsi kesamaan varians untuk Anova sudah terpenuhi.
Setelah ketiga varians terbukti sama, maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Anova (Analysis of Variance) untuk menguji ketiga sampel mempunyai rata-rata (mean) yang sama. Dari hasil output bagian Anova, terlihat bahwa F hitung (Fhit) pada pemeriksaan ke-1 adalah 1.034 dengan p; 0.362 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths dari ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-2, Fhit adalah 20.583 dengan p; 0.000 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-3, Fhit adalah 20.583 dengan p; 0.000 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-4, Fhit adalah 13.082 dengan p; 0.000 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-5, Fhit adalah 13.082 dengan p; 0.000 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-6, Fhit adalah 7.396 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-7, Fhit adalah 7.750 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-8, Fhit adalah 6.289 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-9, Fhit adalah 6.289 dengan p; 0.003 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-10, Fhit adalah 3.475 dengan p; 0.037 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-11, Fhit adalah 3.475 dengan p; 0.037 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-12, Fhit adalah 0.772 dengan p; 0.467 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-13, Fhit adalah 0.772 dengan p; 0.467 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-14, Fhit adalah 1.541 dengan p; 0.223 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-15, Fhit adalah 1.541 dengan p; 0.223 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-16, Fhit adalah 1.626 dengan p; 0.206 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-17, Fhit adalah 1.626 dengan p; 0.206 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-18, Fhit adalah 3.775 dengan p; 0.029 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-19, Fhit adalah 3.775 dengan p; 0.029 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-20, Fhit adalah 5.464 dengan p; 0.007 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Gohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-21, Fhit adalah 5.464 dengan p; 0.007 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-22, Fhit adalah 5.649 dengan p; 0.006 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-23, Fhit adalah 5.354 dengan p; 0.008 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-24, Fhit adalah 7.282 dengan p; 0.002 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-25, Fhit adalah 7.282 dengan p; 0.002 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-26, Fhit adalah 6.745 dengan p; 0.003 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-27, Fhit adalah 6.745 dengan p; 0.003 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-28, Fhit adalah 6.745 dengan p; 0.003 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohalminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-29, Fhit adalah 6.773 dengan p; 0.002 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-30, Fhit adalah 6.773 dengan p; 0.002 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-31, Fhit adalah 8.403 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-32, Fhit adalah 8.403 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-33, Fhit adalah 8.623 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-34, Fhit adalah 8.623 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-35, Fhit adalah 7.662 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-36, Fhit adalah 7.662 dengan p; 0.001 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Fhit untuk Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths, adalah 6.6961 dengan p; 0.002 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketiga populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang tidak identik atau berbeda.
Setelah diketahui bahwa ada perbedaan Indeks Pertumbuhan Geohelminths yang signifikan antara ketiga jenis telur Geohelminths, maka untuk mengetahui lebih lanjut tentang Indeks Pertumbuhan Geohelminths yang berbeda dan mana yang tidak berbeda, akan dilanjutkan dengan menggunakan uji Tukey HSD dan Bonfferroni.
Hasil uji signifikansi dengan mudah dapat dilihat pada output dengan ada atau tidaknya tanda (*) pada kolom mean difference. Jika tanda (*) ada di angka mean difference atau perbedaan rata-rata maka perbedaan tersebut signifikan. Jika tidak ada tanda (*), perbedaan tidak signifikan.
Dengan melihat ada tidaknya tanda (*) pada kolom mean difference terlihat
bahwa: pada pemeriksaan ke-1 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura dan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura dengan A. lumbricoides dan Cacing kait, maupun Cacing kait dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-2 mean dari A. lumbricoides berbeda secara nyata dengan T. trichiura dan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura dengan A. lumbricoides dan Cacing kait, maupun Cacing kait dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-3 mean dari A. lumbricoides berbeda secara nyata dengan T. trichiura dan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura dengan A. lumbricoides dan Cacing kait, maupun Cacing kait dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-4 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda secara nyata Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda secara nyata dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-5 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda secara nyata Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda secara nyata dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-6 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda secara nyata Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda secara nyata dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-7 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan
T. trichiura dan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait juga tidak berbeda secara nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-8 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura dan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait juga tidak berbeda secara nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-9 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides maupun dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-10 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. Begitupun juga T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides maupun dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19 tidak terdapat mean yang berbeda secara nyata.
Pada pemeriksaan ke-20,21,22,23,24, dan 25 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides dan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi tidak berbeda nyata dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-26 dan 27 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-28, 29, 30, 31, dan 32 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides dan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi tidak dengan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-33, 34, 35, dan 36 mean dari A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides dan T. trichiura.
Pada pemeriksaan ke-37, 38 mean A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides maupun dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi tidak dengan T. trichiura.
Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths, mean A. lumbricoides tidak berbeda nyata dengan T. trichiura tetapi berbeda nyata dengan Cacing kait. T. trichiura tidak berbeda nyata dengan A. lumbricoides maupun dengan Cacing kait, sementara Cacing kait berbeda nyata dengan A. lumbricoides tetapi tidak dengan T. trichiura.
Indeks Pertumbuhan Geohelminths jika dilihat berdasarkan tujuh jenis tanah yang dipergunakan sebagai media kultur, maka dari hasil output bagian anova terlihat bahwa F hitung (Fhit) pada pemeriksaan ke-1, 2, dan 3 adalah 1.576, 0.911 dan 0.911 dengan p; 0.171, 0.494, dan 0.494 yang > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketiga jenis telur Geohelminths tersebut memang identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-4, 5, Fhit adalah 2.918; 2.918 dengan p; 0.015, dan 0.015 yang < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-6, 7, Fhit adalah 2.067; 2.416 dengan p; 0.072, dan 0.072 yang > α;0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-8, 9, 10, 11, 12, 13, Fhit adalah 2.613; 2.613; 3.590; 3.590; 4.020; 4.020 dengan p; 0.026; 0.026; 0.004; 0.004; 0.002; dan 0.002 yang < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-14, 15, Fhit adalah 2.087; 2.087 dengan p; 0.071, dan 0.071 yang > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-16, 17, Fhit adalah 2.548 dengan p; 0.031 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-18, 19, Fhit adalah 1.894 dengan p; 0.101 > α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah identik atau sama.
Pada pemeriksaan ke-20, 21,22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, dengan Fhit 2.324, 2.840, 3.483, 3.915, 4.132, 3.637, 2.639, 2.467, dan p; 0.048, 0.019, 0.006, 0.003, 0.002, 0.005, 0.027, 0.037, < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah tidak identik atau berbeda.
Pada pemeriksaan ke-35, 36, Fhit adalah 1.574 dengan p; 0.176 > α; 0.05, maka
Ho yang menyatakan rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik diterima. Atau rata-rata Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah identik atau sama.
Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths dengan Fhit 2.402 dan p; 0.039 < α; 0.05, maka Ho yang menyatakan rata-rata Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths ketujuh populasi adalah identik ditolak. Atau rata-rata Total Indeks Pertumbuhan Geohelminths pada ketujuh jenis tanah adalah tidak identik atau berbeda.

Kamis, 03 Juni 2010

Sains Geografi Dalam Pembelajaran Inovatif

SEMINAR GEOGRAFI FKIP UNPATTI



Tema yang diusung dengan dua konsep utama yaitu; Sains Geografi dan Pembelajaran Inovatif dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa geografi sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat holistik, sintesis dan kewilayahan dibangun dengan pilar 4W+H. Pemahaman terhadap formula IPG=f(4W+H) tersebut dapat dijelaskan sbb:

1) apa, dimana dan kapan (what, where and when), pertanyaan ini menuntun kita untuk mengetahui fenomena geografis dan distribusi spasialnya pada suatu wilayah, serta kapan terjadinya;
2) bagaimana dan mengapa ( how and why), pertanyaan ini bersifat analitis untuk mengetahui sistem, proses, perilaku, ketergantungan, organisasi spasial dan interaksi antar komponen pembentuk geosfer;
3) apakah dampaknya (what is the impact), pertanyaan bersifat analistis, sintesis untuk mengevaluasi fenomena geografi yang mengalami perubahan baik oleh proses alam maupun oleh hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya;
4) Bagaimana seharusnya (how ought to ), pertanyaan ini menjurus ke sintesis dan evaluasi untuk pemecahan permasalahan lingkungan suatu wilayah dan memberikan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan.

Dalam merespon permasalahan fenomena geosfer yang multidimensi dan berskala lokal hingga global tersebut, seorang geograf di masa mendatang dituntut untuk mememiliki kompetensi berikut:

Kompetensi Dalam Pengertian dan Pemahaman

Setelah mempelajari geografi seseorang diharapkan memperoleh pengertian dan
pemahaman sebagai berikut:
1) hubungan timbal balik antara aspek fisik dan manusia dari lingkungan dan bentanglahan;
2) konsep variasi spasial;
3) perbedaan utama dari wilayah /daerah tertentu yang selalu mengalami perubahan akibat proses: fisik, lingkungan, biotik, sosial, ekonomi dan budaya;
4) konsepsualisasi terhadap pola, proses, interaksi dan perubahan lingkungan, sebagai suatu sistem dengan skala yang bervariasi;
5) kekritisan terhadap aspek spasial dan temporal dari proses-proses fisikal, manusia dan interaksinya;
6) perubahan yang terus terjadi pada komponen lingkungan fisik dan manusia, termasuk interaksi dan interdependensinya;
7) perbedaan menurut ruang, tempat dan waktu dalam masyarakat manusia;
8) sifat dari disiplin ilmu itu dinamik, prural dan bersaing;
9) cara representasi data geografi: aspek fisik maupun aspek manusianya;
10) strategi dalam analisis dan interpretasi informasi geografis;
11) metode penelitan geografis: observasi, survai, pengukuran lapangan, analisis laboratorium, analisis kuantitatif dan kualitatif;
12) aplikasi konsep dan teknik geografi untuk pemecahan masalah, kesejahteraan manusia, perbaikan lingkungan hidup, perencanaan perkotaan, kebencanaan alam, keberlanjutan dan konservasi.

Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Intelktual

Geografi memberikan serangkaian keahlian intelektual dan kemampuan dalam kompetensi sebagai berikut:
1) penilaian teori yang berbeda, penjelasan dan kebijakan;
2) analisis dan pemecahan masalah;
3) membuat keputusan;
4) penilaian kejadian secara kritis;
5) interpretasi data dan teks secara kritis;
6) menyarikan dan mensintesiskan informasi;
7) mengembangkan argumentasi yang mendasar;
8) mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan kemampuan diri dan
mengembangkan kebiasaan untuk belajar terus menerus.

Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Praktis
Pendidikan geografi dapat memberikan keahlian praktis dalam bidang/hal berikut:
1) mampu melakukan perencanaan, perancangan dan pelaksanaan riset, termasuk penyusunan laporan akhir;
2) mampu melaksanakan kerja lapangan yang efektif, dalam konteks keamanan dan keselamatan;
3) mampu melakukan kerja laboratoris dengan aman dengan memperhatikan prosedur baku;
4) mampu melaksanakan survai dan metode penelitian untuk pengumpulan, analisis dan pemahaman informasi aspek manusia;
5) mampu melakasanakan variasi teknik dan metode analisis laboratorium untuk pengumpulan dan analisis data spasial dan informasi lingkungan;
6) mampu mengkombinasikan dan menginterpretasikan kejadian geografis yang berbeda tipenya;
7) mampu mengenali isu-isu moral dan etika yang diperdebatkan.

Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Kunci ( Key Skills)
Siswa /mahasiswa geografi harus mengembangkan kemampuan sebagai berikut:
1) belajar dan mengkaji,
2) komunikasi tertulis,
3) presentasi data geografis,
4) penilaian dan perhitungan,
5) kesadaran spasial dan observasi,
6) keja lapangan dan laboratoris,
7) tehnologi informasi,
8) penanganan dan penyimpanan data/informasi,
9) situasi personal, kerja sama (Sutikno, 2008).

Oleh sebab itu sistem Pendidikan-pun perlu dikembangkan dalam Paradigma Multi Dimensi sehingga Out Come-nya adalah Lulusan dengan kompetensi yang dapat memenuhi kebutuhan pasar dan globalisasi. Salah satu Starting Point ke arah tersebut adalah capaian Tenaga Kependidikan yang Profesional.

FKIP Unpatti khususnya Program Studi Pendidikan Geografi sebagai Lembaga penghasil tenaga kependidikan yang profesional, diharapkan dapat menghasilkan tenaga kependidikan yang bukan saja mampu mentransfer, menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya tetapi mampu menjadikan Pembelajarannya lebih bermakna.

Salah satu Strategi ke arah pembelajaran bermakna adalah dibutuhkan Metode Mengajar yang Inovatif sehingga dapat merangsang pebelajar untuk dapat mempelajari dan menguasai disiplin Ilmu Geografi secara berdayaguna.
I hear I forget, I see I remember, I do it I Understand.

Melalui Seminar ”Sains Geografi Dalam Pembelajaran Inovatif” Tahun 2009 yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Unpatti, diharapkan dapat:

Meningkatkan Profesionalisme Guru Geografi , Sosiologi, Pemerhati Strategi Pembelajaran Inovatif di Maluku .
Sebagai Wadah Pertemuan Ilmiah Ikatan Geografi Indonesia
Wadah Komunikasi Antar Geograf dan Pendidik Geografi berkaitan dengan perkembangan Ilmu Geografi dan Pembelajaran Geografi

Sebagai peserta seminar adalah:
 Dosen serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi pada tingkat pendidikan tinggi
 Guru Geografi Pada Tingkatan Pendidikan Menengah
 Guru Sosiologi Pada Tingkatan Pendidikan Menengah
 Pemerhati Strategi Pembelajaran Inovatif
 Para Undangan: Para Kepala Dinas terkait ( Pertambangan, PU, Badan Pertanahan, Pariwisata, Pendidikan), Ketua Bappeda baik di tingkat Provinsi maupun Kota Ambon









Sambutan Ketua PS. Pendidikan Geografi FKIP Unpatti
Pada Seminar Nasional Geografi’’ Sains Geografi Dalam Pembelajaran Inovatif’
Ambon. 31 Januari 2009


Yth:
 Bapak Rektor Unpatti
 Bpk. Prof. Dr. Suratman Woro., M.Sc
 Bapak Dekan FKIP Unpatti
 Bapak Kepala Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Maluku
 Bapak /Ibu Undangan dari Dinas Dinas terkait
 Bpk/ Ibu Kajur-Kadipro dalam lingkup FKIP Unpatti
 Para Dosen PS. Pendidikan Geografi...
 Para peserta seminar nasional geografi tahun 2009, yang berbahagia......

Sebagai umat beragama... patut kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.... atas segala KurniaNYA.... sehingga di hari ini.... para praktisi pendidikan.... para teknokrat.... akademisi.... bahkan para pemerhati sains geografi dan pembelajaran inovatif..... berkumpul, satukan hati.... bulatkan tekad.... untuk memajukan pendidikan di bumi 1000 pulau ini......


Pelaksanaan Seminar Ilmiah, apalagi dengan skala nasional sudah merupakan kebutuhan utama di sebuah lembaga pendidikan tinggi...sehingga dianggap hal yang biasa, tetapi untuk Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Unpatti merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Saya katakan demikian sebab dalam kondisi yang serba terbatas Program Studi menata diri setelah tidak punya apa-apa beberapa waktu kemarin. Dan di hari ini, demi perwujudan citra diri sebagai salah satu Program Studi tertua di Universitas Pattimura, maka Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Unpatti melaksanakan Seminar Nasional Geografi dengan Tema: Sains Geografi Dalam Pembelajaran Inovatif.
Tema tersebut diangkat mengacu pada 2 konsep utama yang saling kait mengkait yaitu: “Sains Geografi di satu sisi, dan Pembelajaran Geografi di sisi lainnya”.
Sains Geografi mengacu pada capaian kompetensi “Geography is Mother of Science”, dan Pembelajaran Inovatif mengacu pada membelajarkan Geografi secara lebih bermakna.


Hadirin yang kami hormati....

Geografi sebagai ilmu pengetahuan yang pernah disebut sebagai induk ilmu pengetahuan
(mother of sciences) sering mengalami pasang-surut peranannya untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Jadi apabila geografi tetap ingin berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam kebijakan pembangunan, maka geografi harus dikaji secara multy dimesion.... yang artinya aplicatted geography mesti mendarat pada berbagai disiplin ilmu terkait seperti; ilmu teknik, transportasi, lingkungan, sosial-ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, ilmu geografi mengalami pasang surut yang signifikan.... dapat disebutkan; pada kurikulum 1974 geogarfi dalam kurikulum Sekolah Menengah mengalami kemajuan yang berarti baik pada porsi jam pertemuan, maupun substansi materi pembelajaran (fisik maupun maupun sosial). Selama kurikulum 1994, dua puluh tahun kemudian geografi dalam kurikulum Sekolah menengah mengalami surut dengan hanya diajarkan pada semester tertentu (pengurangan jam pertemuan) dan juga substansi materi yang terbatas pula......, saya tidak tau apa alasannya.... ada yang bilang karena geografi Banci.... maksudnya fisik tidak, sosial juga tidak..... jadi berada di tengah-tengah.....
Sejalan dengan kemajuan teknologi Remote Sensing dan GIS, geografi kembali dilirik..... kurikulum Sekolah Menengah mulai menempatkan mata pelajaran geografi pada porsinya yang sesuai.... ini dapat dilihat bahwa sejak tahun lalu (2008) mata pelajaran geografi mulai dimasukkan sebagai mata pelajaran yang diuji secara nasional (UNAS).... Itu berarti bahwa para perencana pendidikan di tingkat nasional mulai menyadari bahwa geografi adalah Mother of Science.....

Prof. Sutikno... salah seorang Guru Besar Fak. Geografi UGM dalam Materi yang disampaikan pada Sarasehan Keilmuan Geografi Tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM................, mengusulkan suatu konsep geografi Geografi terpadu atau geografi yang satu (unifying geography) menjadi satu pilihan sebagai dasar pembelajaran geografi yang sesuai untuk Indonesia, yang diikuti dengan pendalaman keilmuan pada masing-masing obyek material kajian geografi tanpa melupakan obyek formalnya. Masih menurut beliau.... dalam merespon permasalahan fenomena geosfer yang multidimensi dan berskala lokal hingga global, seorang geograf di masa mendatang dituntut untuk mememiliki kompetensi berikut; Kompetensi Dalam Pengertian dan Pemahaman, Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Intelktual, Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Praktis, dan Kompetensi Dalam Keahlian/Ketrampilan Kunci ( Key Skills).

FKIP Unpatti khususnya Program Studi Pendidikan Geografi sebagai Lembaga penghasil tenaga kependidikan yang profesional, diharapkan dapat menghasilkan tenaga kependidikan (guru geografi) dengan kompetensi yang bukan saja dapat menguasai substansi, mentransfer, menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya tetapi mampu menjadikan Pembelajarannya lebih bermakna kepada orang lain (peserta didik).

Salah satu Strategi ke arah pembelajaran bermakna adalah dibutuhkan Metode Mengajar yang Inovatif sehingga dapat merangsang pebelajar untuk dapat mempelajari dan menguasai disiplin Ilmu Geografi secara berdayaguna.
I hear I forget, I see I remember, I do it I Understand.



Melalui Seminar ”Sains Geografi Dalam Pembelajaran Inovatif” Tahun 2009 yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Unpatti, diharapkan dapat:

Meningkatkan Profesionalisme Guru Geografi , Sosiologi, Pemerhati Strategi Pembelajaran Inovatif di Maluku .
Sebagai Wadah Pertemuan Ilmiah Ikatan Geografi Indonesia
Wadah Komunikasi Antar Geograf dan Pendidik Geografi berkaitan dengan perkembangan Ilmu Geografi dan Pembelajaran Geografi

Sebagai peserta seminar adalah:
 Dosen serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi pada tingkat pendidikan tinggi
 Guru Geografi Pada Tingkatan Pendidikan Menengah
 Guru Sosiologi Pada Tingkatan Pendidikan Menengah
 Pemerhati Strategi Pembelajaran Inovatif
 Para Undangan: Para Kepala Dinas terkait ( Pertambangan, PU, Badan Pertanahan, Pariwisata, Pendidikan), Ketua Bappeda baik di tingkat Provinsi maupun Kota Ambon

Sebagai Pembicara adalah:
1.Bapak Prof. Dr. Suratman Woro, M.Sc, Guru Besar, Dekan Fak. Geografi UGM juga Ketua IGI
2.Bapak Prof. Dr. T.G. Ratumanan, MPd; Guru Besar Pembelajaran Inovatif FKIP Unpatti
3.Bapak Kepala Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Maluku, selaku Top pimpinan pihak pengguna (user)


Mengakhiri sambutan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Rektor Unpatti, Para Nara sumber secara khusus Prof. Dr. Suratman Woro, MSc, dan lebih mulia lagi ucapan terima kasih ini saya tujukan kepada seluruh peserta seminar Nasional Geografi tahun 2009...... Semoga apa yang kita alami di hari ini kiranya dapat menjadi berkat bagi orang lain...... Akhirnya saya mohon dengan seluruh kerendahan hati... Bapak Rektor Unpatti berkenan memberikan Sekapur siri sekaligus membuka kegiatan seminar Nasional Geografi yang dilaksanakan oleh PS. Gegrafi FKIP Unpatti di hari ini......
Sekian dan terima kasih......


Ketua PS. Geografi



Drs. W. S. Pinoa., MSi